Oleh :
Alfat Maulana, S.IP, M.Ikom
Wakil Ketua GP Ansor Jakarta Timur
Kita sering menyebut nama Sukarno dengan takzim. Gambar wajahnya terpajang megah di kantor-kantor pemerintahan, dalam poster-poster politik, bahkan dijual di pasar barang antik sebagai ornamen penuh aura nasionalisme. Tapi pertanyaannya: apakah Bung Karno hari ini benar-benar hidup dalam denyut nadi bangsa, ataukah ia sekadar ikon yang dibungkam oleh retorika dan formalitas?
Bung Karno bukan hanya bapak proklamator, ia adalah pemikir besar. Ia bukan hanya seorang orator, tapi ideolog sejati yang menggali dasar-dasar kebangsaan dari bumi dan sejarah Nusantara. Namun ironi terbesar kita hari ini adalah: ajaran Sukarno lebih sering dikutip daripada dihayati, lebih sering diperingati daripada dijalani.
Lihatlah Pancasila—yang ia gali sebagai dasar negara, bukan sekadar lima sila di dinding sekolah. Ia menginginkan Pancasila menjadi ideologi aktif, alat perjuangan hidup rakyat, bukan mantra yang dibacakan tiap 1 Juni dan dilupakan keesokan harinya.
Lihat pula gagasannya tentang berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Hari ini, berapa banyak elite yang benar-benar berdikari? Ekonomi kita masih dijajah oleh modal asing, dan mentalitas inlander masih bercokol di banyak kepala. Kita bergantung pada kekuatan luar untuk pangan, energi, bahkan informasi. Bukankah ini pengkhianatan halus terhadap semangat Trisakti?
Sukarno berbicara tentang revolusi mental jauh sebelum kata itu didaur ulang sebagai jargon kampanye. Tapi hari ini, revolusi mental hanya sampai pada spanduk dan seminar. Tidak sampai pada kebijakan yang menyentuh struktur sosial dan watak penguasa.
Bung Karno adalah pemimpi besar. Tapi yang lebih penting: ia adalah pembangun jalan menuju mimpi itu. Ia tidak berhenti pada wacana, ia bergerak. Namun kini, banyak yang mengaku “soekarnois”, tapi tak lebih dari penumpang popularitas. Mereka meminjam auranya, tapi menolak menanggung beban pikirannya. Mereka bicara tentang nasionalisme sambil menimbun dolar, bicara tentang marhaenisme sambil menghisap keringat buruh.
Kita menjadikan Bung Karno simbol yang nyaman, bukan cambuk yang menggugah. Kita bangga mewarisi namanya, tapi kita takut melanjutkan nyalinya.
Bangsa ini tidak kekurangan kutipan dari Bung Karno. Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk menjadikan ajarannya sebagai alat hidup—alat yang keras, tajam, dan menuntut konsekuensi. Karena Bung Karno bukan untuk disembah, tapi untuk diteladani. Ia bukan patung, ia adalah percikan bara yang seharusnya terus membakar.
Dan selama kita hanya menjadikannya simbol, selama itu pula kita mengkhianatinya.








