Dalam hal ini, guru-guru tidak hanya menjadi pendamping. Tetapi juga pengajar teknik dasar. Agar anak-anak bisa memahami, dan menikmati permainan dengan benar.
“Kami memanfaatkan momentum ini, untuk menyisipkan nilai-nilai karakter. Misalnya dalam permainan engklek, mereka diajak memahami. Pentingnya keseimbangan tubuh. Serta melatih fokus dan koordinasi,” jelasnya.
Kemudian, dalam permainan beregu, seperti gobak sodor dan kasti. Anak-anak belajar tentang kerja sama tim. Strategi. Dan sportivitas. Antusiasme siswa terlihat jelas. Saat mereka tertawa. Mencoba. Bahkan jatuh bangun.
“Kegiatan ini bukan semata hiburan. Namun sarana untuk mengenalkan budaya lokal. Mengembangkan kemampuan motorik. Serta menanamkan nilai kebersamaan, dan kejujuran sejak dini,” imbuhnya.
Menurutnya, permainan tradisional ini juga merupakan kelanjutan dari penguatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Beberapa permainan sudah pernah dikenalkan, dalam pembelajaran tematik berbasis budaya.
“Gelaran ini menjadi pengingat. Masa kecil seharusnya penuh warna dan gerak. Anak-anak pun tidak hanya sehat secara fisik. Tapi kaya akan nilai sosial dan karakter. Kami ingin, memperkuat identitas budaya anak bangsa,” pungkasnya. (cr9/fat)










