‎Komik Digital NICE Dorong Guru SD Tingkatkan Numerasi Siswa

‎BERI PEMAPARAN: Beberapa tim pengabdian melakukan pemberdayaan kepada guru sekolah dasar melalui pemanfaatan NICE, Selasa (12/8/25). (HUMAS/JOGLO JATENG)

PURWOREJO, Joglo Jateng – Tim pengabdian dari Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMPWR) yang beranggotakan Wahju Tjahjo Saputro, Teguh Wibowo, dan Arum Ratnaningsih melaksanakan program pemberdayaan guru sekolah dasar melalui media digital inovatif bernama Nusantara Interactive E-Comic Berbasis Android di SD Negeri Sindurjan, Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo.

Program ini merupakan bagian dari skema Hibah Pemberdayaan Masyarakat Tahun 2025 yang mendapatkan dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia dengan Nomor Kontrak Turunan 01/LPPM/K/PKM/UMPWR/VI/2025.

Ketua Tim Pengabdian, Wahju Tjahjo Saputro menjelaskan bahwa kegiatan ini berfokus pada peningkatan kompetensi guru dalam menyusun dan mengimplementasikan pembelajaran numerasi berbasis konteks budaya lokal.

“Melalui media komik digital NICE, kami ingin menghadirkan pembelajaran matematika yang menyenangkan, dekat dengan kehidupan siswa, dan sarat nilai budaya,” ujarnya.

Selama enam bulan pelaksanaan, tim melibatkan 11 guru SD dalam berbagai kegiatan, mulai dari observasi kebutuhan, pelatihan penggunaan media, pendampingan kelas, hingga evaluasi hasil pembelajaran.

Dalam tahap pelatihan, guru dibekali pemahaman mengenai konsep literasi numerasi, pendekatan etnomatematika, dan strategi penyusunan skenario pembelajaran kontekstual.

“Mereka juga dilatih secara langsung menggunakan media NICE yang memuat cerita budaya Nusantara dengan sisipan materi matematika sesuai Kurikulum Nasional,” katanya.

Menurut Teguh Wibowo, anggota tim pengabdian, kegiatan dilakukan secara partisipatif dengan fokus pada praktik langsung.

“Guru tidak hanya belajar teori, tetapi langsung mempraktikkan penggunaan komik digital di kelas sehingga lebih siap mengimplementasikannya,” terangnya.

Media NICE menjadi daya tarik utama karena kemampuannya menghadirkan pembelajaran yang visual, menyenangkan, dan kontekstual.

Dalam pendampingan kelas, guru mendapat dukungan untuk mengintegrasikan komik ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), menyusun soal numerasi berbasis cerita lokal, serta memfasilitasi diskusi pemecahan masalah.

“Evaluasi dilakukan melalui observasi langsung, refleksi guru, dan penilaian hasil belajar siswa,” tukasnya.

Hasilnya, penggunaan media NICE terbukti meningkatkan kompetensi guru dalam merancang pembelajaran numerasi berbasis digital dan budaya lokal.

Siswa pun menunjukkan keterlibatan aktif, minat belajar yang lebih tinggi, serta pemahaman konsep yang lebih baik dibandingkan metode konvensional.

“Belajar matematika jadi lebih hidup, tidak sekadar menghafal rumus,” ungkap Arum Ratnaningsih anggota tim pengabdian lainnya.

Selain itu, kegiatan ini melahirkan komunitas belajar antar guru sebagai ruang refleksi dan kolaborasi.

Tim pengabdian berharap, model NICE dapat direplikasi di berbagai sekolah di Indonesia, khususnya di daerah yang kaya akan kearifan lokal, sehingga pembelajaran numerasi menjadi lebih kontekstual, menyenangkan, dan memberdayakan guru maupun siswa. (adm/iza).