Kudus  

Kisah di Balik Tari Rewang Bandeng: Dari Mitos Penyembuh Sakit hingga Sabet Juara di Karnaval Kudus

MERIAH: Perwakilan dari Kecamatan Bae menampilkan Tari Rewang Bandeng di Alun-alun Simpang Tujuh, Sabtu (20/9). (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Desa Dersalam, Kecamatan Bae, membawakan Tari Rewang Bandeng dalam Karnaval Budaya HUT Kudus baru-baru ini di Alun-alun Simpang Tujuh. Tak hanya tampil memukau, penampilan mereka juga berhasil memboyong juara 2 dalam ajang tahunan yang menjadi etalase kekayaan budaya lokal tersebut.

Tarian ini adalah wujud penghormatan terhadap tradisi masyarakat Dukuh Kepyar, Dersalam yang menjadikan ikan bandeng sebagai simbol kearifan lokal dan bagian dari kehidupan sehari-hari. Bandeng, bagi masyarakat setempat, lebih dari sekadar bahan pangan.

“Di Desa Dersalam itu ada satu tradisi di mana ikan bandeng itu merupakan pengganti dari daging, baik ayam maupun daging kaki empat. Itu sangat disukai oleh masyarakat, juga disukai oleh sesepuh desa tersebut, yaitu Mbah Buyut Kertojiwo,” ujar Camat Bae, Syafi’i.

Mbah Buyut Kertojiwo dikenal sebagai tokoh yang membangun kehidupan masyarakat di Dukuh Kepyar. Oleh karenanya, budaya makan bandeng tidak hanya dilestarikan, tapi juga dijadikan inspirasi dalam bentuk seni tari.

Menurutnya, masyarakat di Dukuh Kepyar hingga kini masih meyakini bahwa ikan bandeng memiliki khasiat kesehatan. “Ada satu kepercayaan, kalau orang sakit supaya bisa lekas sembuh itu harus makan ikan bandeng. Sampai sekarang masih dipercaya masyarakat,” ungkapnya.

Penampilan tari setiap tahun merupakan tradisi bergilir antar desa di Kecamatan Bae dalam mengikuti Karnaval Budaya Kudus. Tahun ini giliran Desa Dersalam yang mendapat kehormatan untuk mewakili.

“Kecamatan itu kan setiap kali ada karnaval, pemerannya kita gilir dari desa ke desa. Kebetulan tahun ini dari Desa Dersalam,” imbuhnya.

Persiapan pun dilakukan secara serius. Kecamatan memberikan dukungan dari sisi anggaran. Selain itu, memfasilitasi pelatihan melalui kerja sama dengan sanggar seni lokal.

“Kita siapkan dari sisi dukungan anggaran, kemudian kita bicarakan tema dengan desa. Setelah disepakati, kita minta bantuan Sanggar Seni untuk membuat koreografinya,” terangnya.

Para penampil terdiri dari tokoh masyarakat, perangkat desa, hingga remaja Desa Dersalam. Total ada sekitar 25 orang, belum termasuk ofisial dari kecamatan.

Syafi’i menegaskan, keterlibatan Kecamatan Bae dalam pelestarian budaya bukan hanya soal karnaval semata. Ini merupakan bagian dari tugas pokok dan fungsi kecamatan.

“Kecamatan punya tugas untuk penguatan nilai-nilai budaya, pelestarian budaya, dan pengenalan kearifan lokal kepada masyarakat. Kita ingin budaya yang ada di masyarakat itu tidak punah. Bahkan kalau bisa, dikenal oleh masyarakat luas,” tandasnya. (uma/fat)