Lewat penelitian dan pengabdian masyarakat, tim dosen Universitas Muhammadiyah Kudus membantu warga memahami faktor penghambat manajemen diri pada pasien hipertensi. Tujuannya agar hidup lebih sehat tanpa takut tekanan darah tinggi.
TAK banyak yang sadar bahwa tekanan darah tinggi atau hipertensi bisa menjadi “bom waktu” bagi tubuh. Namun, sekelompok dosen dari Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) memilih turun langsung ke masyarakat untuk membantu mereka memahami dan mengelola penyakit ini dengan lebih baik.
Adalah Ns. Noor Eswanti, M.Kep. dan Muhamad Jauhar, S.Kep., M.Kep., dua dosen dari Fakultas Ilmu Kesehatan UMKU, yang memimpin kegiatan penelitian masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Dawe, Kudus. Kegiatan ini mengusung tema “Mengenal Faktor Penghambat Manajemen Diri pada Pasien Hipertensi” dan berlangsung selama lebih dari sebulan, sejak Januari hingga Februari 2025.
Bagi keduanya, penelitian ini bukan sekadar urusan akademik. Mereka ingin melihat langsung bagaimana masyarakat di daerah pegunungan Dawe menghadapi masalah hipertensi yang ternyata cukup tinggi di sana.
“Banyak pasien sebenarnya tahu mereka hipertensi, tapi belum tentu paham bagaimana cara mengelolanya,” ujar Noor Eswanti.
Selama penelitian, mereka melibatkan 106 responden dari berbagai desa di wilayah kerja Puskesmas Dawe. Para peserta diminta mengisi kuesioner tentang kebiasaan hidup, kepatuhan minum obat, hingga kendala mereka dalam menjaga pola makan dan aktivitas. Tak hanya itu, tim UMKU juga memberikan edukasi kesehatan agar masyarakat lebih paham pentingnya manajemen diri bagi penderita hipertensi.

Suasana kegiatan berjalan akrab dan penuh semangat. Banyak warga yang antusias ikut serta, bahkan tak segan berbagi pengalaman pribadi tentang bagaimana mereka berjuang melawan tekanan darah tinggi. Pihak Puskesmas Dawe juga mendukung penuh kegiatan tersebut dengan menyediakan tempat dan fasilitas penelitian.
Kepala Puskesmas Dawe, Sugeng Riyadi, menyambut baik inisiatif UMKU ini. Menurutnya kegiatan seperti ini sangat membantu. “Tidak hanya memberi edukasi bagi masyarakat, tapi juga bisa jadi bahan pembelajaran bagi tenaga kesehatan agar lebih peka terhadap kebutuhan pasien,” ujarnya.
Dari penelitian ini, tim UMKU berharap hasilnya bisa menjadi panduan bagi tenaga medis dalam memahami faktor-faktor yang membuat pasien sulit mengatur diri, mulai dari kurangnya pengetahuan, motivasi, hingga pengaruh lingkungan.
Bagi masyarakat Dawe, kegiatan ini bukan hanya tentang angka dan data. Mereka pulang membawa pemahaman baru bahwa mengelola hipertensi bukan sekadar urusan obat, tetapi juga soal kesadaran dan kemauan untuk hidup lebih sehat.
“Kalau bisa dicegah sejak dini, kenapa harus menunggu komplikasi?” tutur Jauhar menutup pembicaraan dengan senyum. (adm/iza)










