Prihatin Maraknya Kekerasan Pelajar, Dewan Pendidikan Purworejo Usul Pelaku Bullying Masuk ‘Barak Militer’

Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Purworejo, Wiyonoroto. (MARNIE/JOGLO JATENG)

PURWOREJO, Joglo Jateng – Maraknya aksi perundungan yang menjurus ke kekerasan fisik pada anak-anak yang masih berstatus pelajar di Kabupaten Purworejo, akhir-akhir ini membuat masyarakat prihatin. Aksi tak terpuji para anak baik laki-laki maupun perempuan tersebut juga menjadi perhatian Dewan Pendidikan Kabupaten Purworejo.

Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Purworejo Wiyonoroto menegaskan, keprihatinannya. Meskipun Dewan Pendidikan baru saja dilantik, mereka langsung dihadapkan dengan kondisi tersebut.

“Kami ikut prihatin atas banyaknya kejadian perundungan di Purworejo. Saya dan teman-teman baru dilantik, sudah mendengar ada kejadian-kejadian perundungan. Banyak penyebab terjadinya aksi bullying, baik dari kalangan keluarga, lingkungan, pribadi dan lainnya. Anak-anak perlu perhatian. Bukan hanya tanggung jawab sekolah, namanya pendidikan ya tanggung jawab bersama antara sekolah, orang tua, masyarakat dan pemerintah,” tegasnya, Minggu (30/11/25).

Dewan Pendidikan telah mengadakan rapat, membahas dan menyusun program kerja di 2026. Salah satunya adalah bertemu dengan komite sekolah dan para orang tua untuk mendiskusikan dan menyosialisasikan agar tak ada lagi bullying.

“Kami meminta para orang tua juga mengawasi anak-anaknya. Karena mereka lebih banyak waktu dengan orang tua dan keluarga. Kami juga menyosialisasikan ajakan anti bullying lewat kegiatan seni, salah satunya wayang kulit. Kami meminta pada Ki Sunarko dalang wayang kulit asal Grabag yang akan pentas, agar menyampaikan pesan moral pada masyarakat,” jelasnya.

Menurut pandangannya, terjadinya perundungan dan kekerasan fisik oleh dan pada anak-anak, karena pendidikan karakter belum maksimal. Muatan lokal, seperti Bahasa Jawa, anak-anak sekarang jarang yang tahu Bahasa Kromo (tingkatan Bahasa Jawa yang digunakan berbicara dengan orang tua).

“Banyak anak-anak bicara dengan orang tua, guru, menggunakan Bahasa Jawa ngoko, bukan kromo. Ini membuat prihatin. Kami akan mengusulkan dan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk memperbanyak muatan lokal. Kami juga akan mengusulkan kemungkinan anak-anak pelaku bullying untuk diasramakan semacam barak militer. Ini smeua untuk menjaga agar tak ada lagi perundungan,” terangnya.

Wiyono juga meminta, agar orang tua memperketat pemakaian HP pada anak-anak. Karena sering kali, awal perundungan dan aksi kekerasan bermula dari HP. (mrn/sam)