Jepara  

Baru Dipupuk Langsung Lenyap, Kisah Pilu Petani Jepara Diterjang Banjir Awal Tahun

kondisi sawah yang terendam banjir di Jepara akibat luapan Sungai Serang.
KONDISI: Sawah yang terendam di Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan, Senin (12/1/2026). (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo JatengBanjir Jepara yang melanda pada awal 2026 memberikan pukulan telak bagi sektor pertanian. Ribuan hektare tanaman padi yang rata-rata baru berusia 4-5 minggu kini lenyap terendam air, menyebabkan kerugian materiil yang besar bagi para petani.

Pantauan di lapangan, hamparan sawah di Kecamatan Pecangaan yang semestinya menghijau kini berubah menjadi genangan air keruh akibat luapan Sungai Serang. Para petani hanya bisa pasrah melihat tanaman padi mereka yang baru saja dirawat intensif, kini tak terlihat lagi permukaannya.

Baru Dipupuk, Langsung Terendam

Nasib pilu dialami Sofirin (38), petani asal Desa Gemulung, Kecamatan Pecangaan. Ia mengungkapkan sawah seluas lebih dari satu hektare miliknya habis terendam banjir. Padahal, padi tersebut baru berumur sekitar empat minggu dan baru saja selesai proses pemupukan.

“Baru diberi pupuk, terus satu hari kemudian kena banjir. Mau tidak mau harus menunggu banjir reda,” jelasnya, Jumat (16/1/2026).

Sofirin memperkirakan dampak ekonomi yang ia alami cukup besar. Biaya bibit, tenaga tanam, hingga pupuk yang baru saja ditebar kini sia-sia.

“Baru kami reng-reng (hitung) kerugiannya, sekitar ada puluhan juta karena luas sawah saya yang terendam ada lebih satu hektare,” imbuhnya.

Keluhan serupa disampaikan Sutrisno (70), petani Desa Gerdu, Kecamatan Pecangaan. Ia mengaku pasrah melihat sawahnya kembali menjadi korban bencana hidrometeorologi. Menurutnya, tanaman padi yang baru ditanam sebulan lalu kini terancam busuk atau rusak total.

“Baru tandur wis sebulan (baru ditanam satu bulan). Rugi kabeh (semua),” keluhnya.

Sutrisno mengenang, banjir besar terakhir yang merendam sawahnya terjadi pada 2023 dan berlangsung lebih dari sepekan. Meskipun sepanjang 2024 kondisi relatif aman, awal 2025 hingga 2026 ini air kembali datang memukul harapan petani.

3.009 Hektare Sawah Terdampak

Banjir kali ini dipicu oleh tingginya curah hujan yang menyebabkan luapan Sungai Serang di wilayah selatan Jepara. Air meluber ke persawahan dan permukiman dengan ketinggian genangan antara 30 hingga 70 sentimeter di beberapa titik.

Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Jepara hingga Senin (12/1/2026), total sawah terendam banjir mencapai 3.009,5 hektare. Kerusakan ini tersebar luas di 14 kecamatan dengan rincian sebagai berikut:

  • Welahan: 911 hektare (Terparah)
  • Kalinyamatan: 597 hektare
  • Donorojo: 297 hektare
  • Mayong: 258 hektare
  • Kedung: 239 hektare
  • Pecangaan: 235 hektare
  • Keling: 158 hektare
  • Nalumsari: 92 hektare
  • Mlonggo & Bangsri: Masing-masing 65 hektare
  • Tahunan: 36 hektare
  • Kembang: 30 hektare
  • Jepara: 25,5 hektare
  • Batealit: 1 hektare

Luasnya area yang terdampak mengancam produktivitas padi di Kabupaten Jepara pada musim panen pertama tahun ini. (oka/gih)