KUDUS, Joglo Jateng – Genangan air keruh masih terlihat merendam akses jalan dan masuk hingga ke dalam rumah warga di Desa Jetis Kapuan, Kecamatan Jati, Minggu (18/1/2026). Banjir Kudus yang terjadi sejak awal pekan lalu ini memaksa sebagian warga melakukan penghematan ekstrem demi bertahan hidup.
Terputusnya akses jalan membuat warga kesulitan membeli kebutuhan pokok. Kondisi ini diperparah dengan hilangnya mata pencaharian harian mereka akibat bencana yang tak kunjung surut.
Bertahan Hidup dengan Makan Sekali Sehari
Kusrini, warga RT 2 RW 5 Desa Jetis Kapuan, menceritakan pilunya kondisi warga saat ini. Banjir yang melanda sejak Senin (12/1/2026) dinilai lebih parah dibanding sebelumnya karena air masuk hingga ke dalam hunian.
Di tengah keterbatasan logistik dan akses yang terputus, ia mengaku harus memutar otak agar dapur tetap mengebul. Kusrini bahkan terpaksa menerapkan pola makan satu kali sehari bagi keluarganya.
“Kalau mau cari sembako, jalannya putus. Kadang mau keluar juga malas karena air belum surut-surut. Akhirnya ya makan diirit-irit. Sehari kadang cuma makan sekali,” ungkapnya dengan nada prihatin.
Sebelum banjir, Kusrini menggantungkan hidup dengan berjualan lentog di kawasan Kongsi, Loram Wetan. Kini, usahanya macet total. Selain masalah pangan, sanitasi juga mulai terganggu meski aliran listrik masih aman.
“Harapan kami ya pemerintah lebih perhatian. Karena banjir ini bukan sekali dua kali, tapi sudah sering sekali,” imbuhnya.
DPR RI Salurkan 1.000 Paket Sembako
Merespons kondisi darurat tersebut, Anggota DPR RI Andhika Satya Pangarso turun langsung menyalurkan bantuan. Sebanyak 300 paket sembako diserahkan khusus untuk warga Desa Jetis Kapuan yang terdampak parah.
Total terdapat 1.000 paket sembako yang disebar di berbagai titik banjir di Kabupaten Kudus, termasuk Kecamatan Mejobo. Bantuan yang didukung oleh program BRI Peduli ini berisi:
- Beras
- Minyak goreng
- Mi instan
“Hari ini saya berada di Desa Jetis Kapuan untuk memberikan bantuan sembako. Kami melihat langsung kondisi masyarakat yang terdampak dan membutuhkan sentuhan bantuan,” kata Andhika.
Ia menegaskan, bantuan logistik hanyalah solusi jangka pendek. Pihaknya berkomitmen mendorong pemerintah pusat, BNPB, dan kementerian terkait untuk segera merealisasikan bantuan infrastruktur pengendali banjir.
“Kami akan dorong agar Kudus mendapatkan bantuan infrastruktur supaya musibah seperti ini tidak terus berulang,” pungkasnya. (adm/iza)










