KENDAL, Joglo Jateng – Pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menetapkan Kabupaten Kendal sebagai salah satu lokasi strategis pengembangan ekosistem karbon biru (blue carbon) nasional. Proyeksi ini difokuskan pada tiga kecamatan pesisir yang dinilai masih memiliki potensi alami mangrove yang terjaga.
Penunjukan ini menempatkan Kendal dalam daftar 16 kabupaten/kota di Jawa Tengah yang dipersiapkan untuk mendukung program mitigasi perubahan iklim berbasis kelautan. Tiga wilayah yang menjadi prioritas pengembangan adalah Kecamatan Patebon, Kangkung, dan Rowosari.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Kendal, Hudi Sambodo membenarkan hal tersebut. Ia menyebut Kendal memiliki potensi besar di jalur Pantura untuk menyukseskan program nasional ini.
”Kabupaten Kendal masuk dalam 16 daerah tersebut (di Jawa Tengah),” kata Hudi saat dihubungi, Minggu (1/2/2026).
Alasan Pemilihan Lokasi
Hudi menjelaskan, pemilihan tiga kecamatan tersebut bukan tanpa alasan. Ketiganya memiliki ketersediaan lahan dan ekosistem mangrove yang masih sangat memungkinkan untuk dikembangkan secara masif. Kondisi ini berbeda dengan wilayah pesisir Kendal lainnya yang sudah beralih fungsi.
”Empat kecamatan pesisir lainnya sudah masuk kawasan industri, sehingga tidak memungkinkan untuk pengembangan mangrove,” jelasnya.
Secara rinci, lokasi yang diusulkan untuk penanaman dan konservasi mangrove meliputi:
- Kecamatan Patebon: Desa Pidodo Kulon
- Kecamatan Kangkung: Desa Jungsemi
- Kecamatan Rowosari: Desa Sendang Sikucing hingga Desa Gempolsewu
Mulai Berjalan Tahun 2026
Program pengembangan karbon biru nasional ini direncanakan mulai dieksekusi penuh pada tahun 2026. Saat ini, pemerintah daerah tengah mematangkan tahapan persiapan, mulai dari penentuan titik lokasi, sosialisasi kepada masyarakat, hingga sinkronisasi dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
”Termasuk penghitungan luasan, kebutuhan biaya, serta keterlibatan masyarakat dalam program ini,” tandas Hudi.
Adapun jenis vegetasi yang akan dikembangkan adalah mangrove jenis Avicennia spp dan Rhizophora sp. Kedua spesies ini dipilih karena dikenal memiliki kemampuan tinggi dalam menyerap dan menyimpan stok karbon, yang menjadi inti dari proyek blue carbon. (ags/gih)










