PATI, Joglo Jateng – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pati fokus melakukan pembersihan sampah di sungai pasca banjir. Pembersihan sampah ini dilakukan di sejumlah titik yang menjadi perhatian khusus.
Kepala Bidang Kebersihan Persampahan dan Pertamanan DLH Pati, Henri Setiawan menjelaskan bahwa tumpukan sampah di Sungai Simo menjadi biang kerok meluapnya air ke jalan dan permukiman. Kondisi ini mendesak untuk segera ditangani, terutama di titik-titik krusial seperti wilayah Widorokandang dan depan Pabrik Bumi Indo.
Kerahkan Armada Gabungan
Dalam operasi bersih-bersih ini, DLH Pati tidak bekerja sendirian. Sinergi dilakukan bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Pati dengan menerjunkan armada gabungan.
Henri merinci kekuatan armada yang diterjunkan ke lokasi meliputi:
- Alat Berat: 2 unit (Ekskavator dan JCB milik DPUTR).
- Armada Angkut: 3 truk DLH dan 3 truk DPUTR.
“Penanganan sampah pasca banjir, terutama yang kita konsentrasikan ada beberapa titik penting. Terutama yang menjadi perhatian Plt Bupati itu Widorokandang,” terang Henri mewakili Kepala DLH Pati, Tulus Budiharjo.

Didominasi Sampah Bambu
Berdasarkan pantauan di lapangan, jenis sampah yang menyumbat aliran Sungai Simo cukup beragam. Namun, Henri menyebut volume terbesar didominasi oleh batang pohon yang terbawa arus dari hulu.
“Paling banyak sampah dari pohon tumbang, jenisnya paling banyak bambu. Selain itu, lumpur dari sedimentasi dan tanaman eceng gondok juga memperparah kondisi sungai,” jelasnya.
Demi efisiensi waktu, sampah-sampah yang berhasil diangkat tidak langsung dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) karena jarak yang terlalu jauh. Sebagai solusi cepat, material tersebut untuk sementara dibawa ke lokasi di Alun-alun Timur.
Target Rampung 20 Hari
Proses normalisasi darurat ini diperkirakan memakan waktu cukup lama mengingat volume sampah yang masif. Henri menyebut pengerjaan sudah berjalan sekitar dua minggu dan masih membutuhkan waktu tambahan.
“Selesainya perkiraan 15 sampai 20 hari,” ucapnya.
Menutup keterangannya, Henri menekankan pentingnya antisipasi jangka panjang. Mengingat banjir bandang kerap berasal dari hulu, ia berharap pengawasan terhadap pohon-pohon di daerah atas sungai lebih ditingkatkan agar tidak tumbang dan menyumbat aliran di hilir. (lut/fat)










