KUDUS, Joglo Jateng – Pemerintah Desa Nganguk, Kecamatan Kota, Kudus bergerak cepat mengantisipasi dampak cuaca ekstrem dengan melakukan normalisasi Sungai Nganguk (terusan Kedung Gupit) dan kerja bakti massal, akhir pekan lalu. Kegiatan ini melibatkan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kudus untuk mengeruk sedimentasi yang memicu pendangkalan.
Pantauan di lokasi menunjukkan alat berat dikerahkan untuk mengangkat gundukan pasir dan endapan tanah di tengah sungai yang selama ini menghambat aliran air. Langkah preventif ini dinilai krusial untuk mencegah banjir luapan dan menekan risiko penyakit demam berdarah.
Normalisasi dan Identifikasi Kerusakan Talut
Kepala Desa Nganguk, Lina Ermawati menjelaskan, pengerukan sungai menjadi prioritas mengingat beberapa waktu lalu sempat terjadi banjir yang menggenangi jalan akibat luapan air, meski hanya berlangsung satu jam.
“Kerja bakti ini kami meminta bantuan dari PUPR, khususnya bidang Sumber Daya Air (SDA) Wilayah 2 UPTD untuk pengerukan. Setelah normalisasi selesai, kami bersama warga melanjutkan pembersihan secara menyeluruh,” ujarnya.
Selain membersihkan sampah, kegiatan ini sekaligus dimanfaatkan untuk mengidentifikasi kondisi infrastruktur sungai. Kerusakan pada dinding penahan tanah (talut) didata agar segera mendapat penanganan.
“Dari kegiatan ini, kita jadi tahu talut-talut mana saja yang rusak dan itu bisa kita usulkan perbaikannya ke SDA PUPR. Biasanya kerja bakti seperti ini kita lakukan setahun dua kali,” imbuh Lina.
Rencana Swasembada Pangan di Bantaran Sungai
Tak hanya fokus pada mitigasi bencana, Pemerintah Desa Nganguk memiliki rencana inovatif pasca-normalisasi. Lina menyebut, bantaran sungai yang telah bersih rencananya akan dimanfaatkan untuk mendukung ketahanan pangan warga.
“Nanti ke depannya, pinggiran sungai mau kita tanami, rencananya untuk swasembada cabai,” ungkapnya.
Ia optimistis, meski berada di wilayah perkotaan dengan lahan terbatas, warga tetap bisa produktif dengan memanfaatkan pekarangan sempit atau bantaran sungai secara bijak.
Menutup keterangannya, Lina mengimbau seluruh warga Desa Nganguk untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi cuaca ekstrem, termasuk potensi angin kencang dan pemadaman listrik.
“Menghadapi cuaca ekstrem ini, sudah pasti kita harus siaga. Listrik harus siap-siap karena sering padam, dan yang utama tetap menjaga kebersihan lingkungan agar tidak jadi sarang nyamuk,” pesannya. (uma/fat/rds)










