BI Jateng Pastikan Inflasi Terkendali Jelang Idulfitri1447 H

Suasana konferensi pers BI Jateng di Semarang membahas strategi stabilitas ekonomi dan harga pangan menjelang Ramadan 1447 H.
DIALOG: Konferensi pers bertajuk “Strategi menjaga stabilitas ekonomi dan pengelolaan uang rupiah periode Ramadan dan Idulfitri 1447 H” di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang, Rabu (25/2/26). (HAFIFAH NUR CHASANAH/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Suasana serius menyelimuti ruang konferensi pers di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah saat pemaparan strategi ekonomi daerah, Rabu (25/2/2026). Menjelang bulan suci Ramadan dan Idulfitri 1447 H, BI Jateng memastikan laju inflasi daerah tetap terkendali meski ada bayang-bayang kenaikan harga pangan pokok.

Kepala Kantor Perwakilan BI Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, menyebut inflasi pada Januari 2026 tercatat di angka 2,83 persen. Angka ini dinilai aman karena masih dalam rentang target sasaran 2,5 plus minus 1 persen, serta menjadi capaian paling terkendali dibandingkan provinsi lain di Pulau Jawa.

Kendati demikian, tekanan harga sejumlah komoditas pangan diprediksi terus meningkat seiring melonjaknya permintaan masyarakat. Kondisi ini memerlukan langkah antisipatif dari Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) agar daya beli warga tetap terjaga selama perayaan hari besar keagamaan.

Ancaman Kenaikan Harga Pangan

Menurut data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), tren kenaikan harga beberapa komoditas telah terdeteksi sejak Februari. BI bersama pemerintah daerah terus memperketat pengawasan, terutama pada kelompok volatile food atau pangan bergejolak yang sensitif terhadap lonjakan permintaan.

“Kita tidak bisa bersenang dulu karena di depan kita masih ada Idulfitri. Biasanya harga-harga cenderung meningkat. Beberapa komoditas seperti beras, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, dan cabai kering sering menjadi pendorong inflasi karena volatilitasnya tinggi,” jelas Nugroho.

Untuk mencegah lonjakan ekstrem, pengendalian inflasi dilakukan dengan strategi dari hulu ke hilir secara end-to-end. Upaya ini mencakup penguatan produksi sentra pangan, optimalisasi peran BUMD sebagai agregator, hingga 19 kerja sama distribusi antardaerah guna menjamin kelancaran pasokan.

“Strategi kita tidak hanya pemadam kebakaran saat harga naik, tetapi menyelesaikan dari akar masalahnya. Kita perkuat klaster pangan, distribusi, dan sinergi antar daerah supaya pasokan cukup dan harga tetap stabil,” tegasnya.

Gelar Pangan Murah di 227 Titik

Sebagai langkah intervensi konkret untuk membantu masyarakat, pemerintah siap melakukan penetrasi langsung ke pasar. Deputi Kepala Kantor Perwakilan BI Jawa Tengah, Andi Reina Sari, menyatakan Gerakan Pangan Murah (GPM) akan digelar serentak selama bulan puasa.

“Kita juga akan melaksanakan GPM selama Ramadan, yang akan tersebar di 227 lokasi di seluruh kabupaten/kota. Di sejumlah titik tersebut sudah mendaftarkan untuk pelaksanaan GPM dan akan memberikan subsidi juga terkait dengan distribusinya,” terang Reina.

Di samping penyediaan pasar murah, BI turut mengimbau masyarakat agar menerapkan prinsip belanja bijak sesuai kebutuhan. Edukasi ini didorong untuk menekan potensi panic buying yang justru merugikan masyarakat luas dan merusak mekanisme pasar yang sehat. (hfh/gih/rds)