Senada dengan itu, Plt Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (PKPLH) Kabupaten Kudus, Didik Tri Prasetiyo menyebut bahwa persoalan sampah harus diselesaikan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.
Menurutnya, pemilahan sampah di tingkat rumah tangga menjadi langkah paling mendasar untuk menciptakan sistem pengelolaan yang efektif.
“Jika pemilahan sampah sudah menjadi kebiasaan di rumah tangga, maka proses pengelolaan di tingkat berikutnya akan jauh lebih mudah dan berdampak positif bagi lingkungan,” katanya.
Sebagai bentuk penguatan program, BLDF juga meluncurkan peta digital berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) yang memuat 525 titik penjemputan sampah di berbagai wilayah Kudus.
Fasilitas ini didukung 10 armada pengangkut yang beroperasi setiap hari untuk mengumpulkan sampah, khususnya sampah organik, dari masyarakat.
Director Communications Djarum, Mutiara Diah Asmara mengatakan bahwa keluarga memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi masa depan.
Karena itu, kata dia, edukasi lingkungan yang dimulai dari keluarga diyakini mampu menciptakan perubahan perilaku yang berkelanjutan dan berdampak luas bagi masyarakat.
“Kesadaran menjaga lingkungan perlu ditanamkan sejak di lingkungan keluarga. Dari rumah, kebiasaan baik dapat tumbuh dan memberikan dampak positif yang lebih luas bagi masyarakat,” pungkasnya. (adm/rds)










