Kendal  

Kisah Inspiratif Suparman: Tetap Setia Bikin Keranjang Tembakau Tradisional, Sukses Kuliahkan Anak Sampai Sarjana

EKONOMI: Suparman tetap mempertahankan usaha pembuatan keranjang tembakau di tengah era modernisasi, belum lama ini. (ISTIMEWA/JOGLO JATENG)

KENDAL, Joglo Jateng – Di tengah perkembangan teknologi dan penggunaan berbagai peralatan modern, usaha pembuatan keranjang tembakau berbahan bambu di Desa Sumberagung, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal, masih bertahan.

Usaha yang telah dirintis sejak era 1970-an itu hingga kini terus dijalankan oleh Suparman (56) sebagai penerus usaha keluarga.

Di bengkel kerja sederhana miliknya, Suparman tetap memproduksi keranjang tembakau yang digunakan petani sebagai wadah hasil panen.

Proses pembuatannya masih mengandalkan teknik tradisional. Mulai dari membelah bambu menjadi iratan tipis hingga menganyamnya menjadi kerangka atau kurung.

“Usaha ini sudah ada sejak tahun 1970-an. Dulu orang tua saya yang merintis, sekarang saya hanya meneruskan,” ujar Suparman, belum lama ini.

“Selama masih ada petani tembakau yang membutuhkan, saya akan tetap membuat keranjang,” imbuhnya.

Setelah kerangka selesai dianyam, keranjang dilapisi gedebok pisang kering yang sebelumnya dipipihkan menggunakan mesin agar lebih lentur.

Lapisan tersebut berfungsi memperkuat keranjang sehingga mampu menampung hasil panen tembakau dalam jumlah besar.

Gedebok harus benar-benar kering, lalu dipipihkan dulu supaya mudah dipasang. Setelah dilapisi, keranjang sudah siap dipakai untuk menampung tembakau,” jelasnya.

Bahan baku gedebok diperoleh dari Gubug, Purwodadi, hingga Boyolali. Sedangkan bambu didatangkan dari sejumlah wilayah di Kabupaten Kendal dan sekitarnya.

Harga keranjang yang diproduksi berkisar antara Rp 50 ribu hingga Rp 75 ribu, bergantung pada ukuran.

Usaha tersebut menjadi sumber penghidupan keluarga Suparman selama puluhan tahun.

Dari hasil penjualan keranjang tembakau, ia membiayai pendidikan anak-anaknya hingga salah satunya berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana.

“Alhamdulillah, satu anak sudah lulus sarjana dari hasil usaha ini. Dua lainnya masih sekolah, satu di antaranya mondok di pesantren,” katanya.

“Itu yang membuat saya tetap semangat bertahan,” tambahnya dengan bangga.

Menjelang musim panen tembakau, Suparman mempekerjakan empat tenaga kerja musiman untuk memenuhi peningkatan permintaan.

Namun, usaha tersebut juga pernah menghadapi kendala ketika sebagian produk tidak terserap pasar.

Ia mengisahkan pernah memproduksi sekitar 4.000 keranjang. Tetapi sekitar 400 unit tidak terjual karena musim panen berakhir lebih cepat dari perkiraan.

“Harapan saya sederhana, usaha ini tetap hidup dan bisa diteruskan. Ini bukan sekadar pekerjaan, tetapi warisan orang tua yang harus dijaga,” pungkasnya. (ags/ree/rds)