Jumlah Pekerja Migran Indonesia dari Banjarnegara Naik 35 Persen

KENDARAAN: Suasana halaman Kantor Disnakerpmptsp Kabupaten Banjarnegara dipenuhi kendaraan roda dua, Rabu (12/8/2026). (FAJAR ARI WIBOWO/JOGLO JATENG)

BANJARNEGARA, Joglo Jateng – Minat masyarakat Kabupaten Banjarnegara untuk bekerja ke luar negeri terus meningkat.

Hingga akhir Juni 2026, Dinas Tenaga Kerja, Penanaman Modal, dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Disnakerpmptsp) Kabupaten Banjarnegara mencatat 1.132 Pekerja Migran Indonesia (PMI) terdaftar melalui layanan antarkerja antarnegara. Jumlah tersebut meningkat hampir 35 persen dibandingkan tahun 2025.

Kepala Disnakerpmptsp Kabupaten Banjarnegara, Abdul Suhendi melalui Kepala Bidang Pelatihan dan Penempatan Tenaga Kerja, Titi Prijanti mengatakan hal tersebut. Para PMI tersebar di sejumlah negara tujuan, seperti Taiwan, Hong Kong, Singapura, Malaysia, Turki, hingga kawasan Eropa.

“Untuk 2026 dari Januari sampai akhir Juni, sesuai data antarkerja antarnegara yang terdata di Disnaker ada 1.132 pekerja migran Indonesia. Ada peningkatan dari 2025, kalau dipersentasekan meningkat hampir 35 persen,” kata Titi.

Menurutnya, peningkatan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari kemudahan regulasi penempatan, jaminan perlindungan, hingga efisiensi pengurusan dokumen. Tingginya permintaan tenaga kerja Indonesia di luar negeri juga menjadi salah satu pendorong.

“Banyaknya job order atau permintaan tenaga kerja luar negeri dari Indonesia juga menjadi salah satu faktor. Tenaga kerja Indonesia dikenal hangat, ramah, patuh, dan rajin. Itu menjadi modal tersendiri dibanding negara Asia lain,” jelasnya.

Selain itu, akses informasi yang semakin luas serta tawaran penghasilan yang lebih tinggi dibanding Upah Minimum Kabupaten (UMK) turut menarik minat masyarakat. Bahkan, menurut Titi, penghasilan PMI di sejumlah negara bisa mencapai tiga kali lipat UMK daerah asal.

Secara sektoral, PMI asal Banjarnegara terserap di sektor formal maupun informal. Sektor formal mencakup perusahaan berbadan hukum di Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Jerman, hingga sejumlah negara Eropa.

Sementara itu, sektor informal didominasi oleh pekerjaan domestik. Titi menilai meningkatnya jumlah PMI turut berdampak positif terhadap ekonomi keluarga dan penurunan angka pengangguran di Banjarnegara.

Remitansi yang dikirim ke keluarga dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hingga membiayai pendidikan anak.

Berdasarkan data Disnaker Kabupaten Banjarnegara, jumlah pengangguran terbuka turun dari 36.549 orang pada 2023 menjadi 33.660 orang pada 2024. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) juga menurun dari 6,26 persen pada 2023 menjadi 5,57 persen pada 2024 dan 5,39 persen pada 2025.

“Karena sebenarnya Banjarnegara ini sebelumnya angka penganggurannya cukup tinggi. Maka minat masyarakat yang tinggi untuk bekerja ke luar negeri juga turut berkontribusi terhadap pengurangan jumlah pengangguran,” pungkasnya. (cr1/iza/rds)