Tingkatkan Minat Baca Siswa melalui Webtoon

MENYIMAK: Siswa-siswi MTs N 9 Sleman saat membaca karya komik di Kelasnya, belum lama ini. (DOK SEKOLAH/ JOGLO JOGJA)

MEMBACA menjadi kegiatan yang mudah dilakukan namun sulit untuk menjadikan suatu kebiasaan. Kebiasaan membaca belum membudaya pada masyarakat, khususnya di kalangan siswa. Pasalnya, kegemaran membaca bukanlah faktor keturunan. Namun, dapat diperoleh melalui pembiasaan dan latihan yang kontinyu.

Dewasa ini, banyak siswa yang enggan membaca lantaran mereka belum merasakan kegiatan membaca sebagai suatu kebutuhan. Mereka masih beranggapan bahwa membaca sebagai sebuah kewajiban. Bahkan, sebagian besar siswa mau membaca apabila ada perintah dari guru atau jika akan ada ulangan.

Membaca adalah pondasi dasar kemampuan siswa. Siswa yang kemampuan membacanya minim akan berdampak pada hasil belajarnya. Di samping itu kemampuan membaca juga berkaitan erat dengan kemampuan menulis. Semakin banyak bacaan yang dibaca, maka semakin luas pengetahuan atau informasi yang diperoleh. Artinya, semakin banyak pula gagasan yang dapat dituangkan dalam bentuk tulisan.

Sedangkan minat baca adalah keinginan yang kuat yang disertai dengan usaha seseorang untuk membaca. Orang yang mepunyai minat baca yang besar bersedia untuk mendapatkan bahan bacaan dan kemudian membacanya atas keinginan sendiri. Orang yang minat bacanya tinggi akan menjadikan membaca sebagai kebiasaan sekaligus kebutuhan.

Menyikapi hal itu, Guru bahasa Indonesia Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTs N) 9 Bantul mengemas pembelajaran Bahasa Indonesia dengan tidak mengikuti pola konvensional. Pihaknya menerapkan pembelajaran melalui Webtoon di Sekolah.

Guru Bahasa Indonesia kelas IX, Dwi Ari Wahyuni mengatakan, ia mengajak siswa untuk memahami pengertian Teks Tanggapan dengan metode yang berbeda. Dwi memulai dengan memberikan contoh bentuk teks tanggapan dan cara-cara menanggapi pada siswa kelas IXA dan IXB.

“Dalam hal ini, siswa diajak untuk membaca karya komikus-komikus ternama. Mereka diminta untuk mengidentifikasi unsur-unsur dalam karya tersebut dan mencari kelebihan serta kekurangannya. Tujuan utamanya adalah untuk mempersiapkan siswa agar bisa menyampaikan penilaian terhadap suatu karya dengan baik,” terangnya, Senin, (20/11).

Ia menambahkan, Webtoon dipilih menjadi media pembelajaran karena siswa yang kebanyakan tidak hobi membaca dapat menikmati membaca dengan pengalaman berbeda. Pasalnya Webtoon memiliki keunggulan dengan gambar-gambar menarik dan beberapa diantaranya dilengkapi dengan musik latar yang mendukung cerita.

“Hasilnya, siswa sangat antusias dan terlena selama tiga jam pelajaran, terutama karena banyak genre cerita yang bisa mereka pilih. Siswa menjadi ketagihan untuk membaca, dan setelah membaca komik, mereka diminta mempresentasikan hasil identifikasinya,” pungkasnya. (bam/all)