SEBUAH tanda kekuasaan Allah Ta’ala dan diantara bentuk kenikmatan di negeri ini adalah adanya musim penghujan, yang saat ini kita sedang memasukinya, Allah SWT berfirman dalam QS An-Naba ayat 14 ”Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah”.
Berbagai sikap muncul sebagai bagian dari bentuk keberagaman masyarakat Indonesia. Bagi seorang muslim tentu sudah memiliki pedoman dalam menyikapi sebuah kondisi tertentu salah satunya tuntunan bagaimana seharusnya seorang muslim ketika datang musim penghujan. Yang pertama adalah berdoa secara khusus dengan doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah, yaitu “Allahumma Shayyiban Naafi’an” yang artinya adalah “Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat”. Hujan yang bermanfaat artinya hujan yang tidak menyebabkan madhorot seperti hujan badai.
Maka ketika hujan cukup lebat Rasulullah pun mengajarkan doa dengan membaca “Allahumma haawalaina wa laa ’alaina. Allahumma ’alal aakami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari [Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami”. Yang bermakna, “Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan.” Doa tersebut dibaca ketika hujan semakin lebat dan dikhawatirkan menimbulkan madhorot.
Yang kedua adalah memperbanyak doa, dikarenakan waktu hujan adalah salah satu waktu mustajabnya doa. Rasulullaah SAW bersabda, “Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan : Bertemunya dua pasukan, Menjelang shalat dilaksanakan, dan Saat hujan turun.” Mendoakan kebaikan untuk negri ini bisa menjadi salah satu daftar utama dalam setiap doa kita di musim penghujan tahun ini yang mungkin selama ini menjadi doa yang banyak dilupakan.
Yang ketiga adalah mengambil berkah ketika hujan turun atau biasa disebut dengan ngalap berkah. Anas bin Malik berkata, ”Kami pernah kehujanan bersama Rasulullahshallallahu ’alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyingkap bajunya hingga terguyur hujan. Kemudian kami mengatakan, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan demikian?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Karena hujan ini baru saja Allah ciptakan”.
Sikap Rasulullah yang demikian dijelaskan oleh Imam An-Nawawi bahwa Rasulullah bertabarruk atau mengambil berkah dari hujan tersebut. Ibnu Rajab dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para sahabat Nabi pun sengaja hujan-hujanan seperti Utsman bin Affan. Demikian juga Abdullah bin Abbas, jika hujan turun dia berkata: Wahai Ikrimah keluarkan pelana, keluarkan ini, keluarkan itu agar terkena hujan. Ibnu Rajab juga menyebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib jika sedang hujan, keluar untuk hujan-hujanan.
Jika hujan mengenai kepalanya yang gundul itu, dia mengusapkan ke seluruh kepala, wajah dan badan kemudian berkata: Keberkahan turun dari langit yang belum tersentuh tangan juga bejana. Rasulullah SAW juga pernah bersabda, “Apabila air mengalir di lembah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Keluarlah kalian bersama kami menuju air ini yang telah dijadikan oleh Allah sebagai alat untuk bersuci”. Kemudian kami bersuci dengannya”. Hadits tersebut berisi anjuran untuk bersuci dengan air hujan yang langsung turun dari langit.
Yang keempat adalah bagaimana Rasulullah SAW juga mengajarkan berdoa setelah selesai turun hujan, Suatu ketika setelah hujan turun Rasulullah SAW bersabda “Pada pagi hari, di antara hambaKu ada yang beriman kepadaKu dan ada yang kafir. Siapa yang mengatakan ’Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih’ (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah), maka dialah yang beriman kepadaku dan kufur terhadap bintang-bintang.
Sedangkan yang mengatakan ‘Muthirna binnau kadza wa kadza’ (Kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini), maka dialah yang kufur kepadaku dan beriman pada bintang-bintang.” Dalam hadits tersebut selain Rasulullah mengajarkan doa setelah hujan, beliau juga mengajarkan aqidah yang benar dalam menyikapi hujan yang membedakan antara seorang yang beriman dan tidak. (*/ree)









