Kudus  

‎Tradisi Sakral Warga Rahtawu, Menyapa Alam melalui Kirab Tujuh Gunungan

‎BERJUANG: Tampak warga Desa Rahtawu sedang berebut hasil bumi pada gunungan yang telah di kirab, pada Minggu (6/7/2025). (ADAM NAUFALDO/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Di kaki Pegunungan Muria, Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, menyimpan kearifan lokal yang tak lekang oleh waktu. Warga desa yang dikelilingi tujuh gunung itu baru saja menghidupkan kembali tradisi sakral yang sempat vakum bertahun-tahun.

‎Kirab Tujuh Gunungan namanya. Sebuah prosesi budaya yang bukan sekadar perayaan. Akan tetapi juga bentuk penghormatan terhadap alam, leluhur, dan kehidupan itu sendiri.

‎Tradisi ini lahir dari keyakinan masyarakat bahwa di sekitar Desa Rahtawu terdapat tujuh gunung yang menyimpan energi spiritual dan dipercaya sebagai tempat bersemayamnya para leluhur.

‎Ketujuh gunung tersebut adalah Gunung Iring-Iring, Gunung Pasar, Gunung Ringgit, Gunung Kelir, Puncak Songolikur, Gunung Tunggangan, dan Gunung Natasangin. Serta Gunung Abiyasa, yang dianggap punya kekuatan gaib.

‎Direktur BUMDes Utama Karya Rahtawu, Abdul Khalim menjelaskan, kirab tersebut digelar sebagai bentuk penghormatan terhadap penghuni yang tidak kasat mata di sekitar pegunungan.

‎“Masyarakat Rahtawu percaya bahwa dengan menghormati leluhur yang menjaga lereng-lereng Muria, kami akan mendapatkan ketenangan, keselamatan, serta kemakmuran,” ujarnya.

‎Gunungan yang diarak dalam kirab berisi hasil bumi, simbol rasa syukur atas rezeki dari tanah Rahtawu. Prosesi ini dimulai dari tujuh titik berbeda, kemudian berkumpul di pusat desa.

‎”Setiap gunungan diperlakukan seperti persembahan, dengan iringan doa dan sesaji khas adat Jawa,” katanya.