Kendal  

Demi Keselamatan Anak Sekolah, Warga Kaliwungu Nekat Blokir Akses Tambang Galian C

Akses masuk ke tambang galian C di Kaliwungu ditutup oleh warga
PROTES: Akses masuk ke tambang galian C di Kaliwungu ditutup oleh warga, Rabu (14/1). (ISTIMEWA/JOGLO JATENG)

KENDAL, Joglo Jateng – Aksi warga blokir tambang Kendal terjadi di wilayah Kaliwungu, Rabu (14/1). Masyarakat setempat menutup akses masuk menuju lokasi tambang galian C karena resah terhadap keselamatan anak-anak dan dampak lingkungan yang ditimbulkan.

Akibat pemblokiran ini, aktivitas operasional di lokasi tersebut lumpuh total. Sejumlah truk pengangkut material tampak terparkir di depan pintu masuk tambang dan berhenti beroperasi saat Wakil Bupati Kendal, Benny Karnadi meninjau langsung ke lokasi kejadian.

Wabup: Punya Izin Jangan Seenaknya

Merespons keresahan warga, Benny Karnadi yang juga Ketua Satgas Mineral Bukan Logam dan Batuan (MBLB) menegaskan akan segera memeriksa status perizinan tambang tersebut. Ia memperingatkan pengusaha agar tidak berlindung di balik izin legal untuk mengabaikan dampak sosial.

“Yang sudah berizin saja kalau menjadi problem akan kita evaluasi. Jangan mentang-mentang punya izin lalu seenaknya. Apalagi kalau ternyata tidak berizin,” tegas Benny di lokasi.

Menurutnya, masyarakat memiliki hak penuh untuk mengawasi aktivitas pertambangan di lingkungan mereka. Pemblokiran akses ini dinilai sebagai sinyal kuat adanya gangguan serius yang dirasakan warga.

“Warga di sekitar tambang itu punya hak untuk ikut mengontrol. Kalau masyarakat menolak, izin lingkungan pun bisa tidak keluar,” imbuhnya.

Truk Beroperasi Saat Jam Sekolah

Sementara itu, Lisnurat, salah satu warga sekitar mengungkapkan alasan utama pemblokiran. Warga tidak menolak keberadaan tambang secara mutlak, namun menuntut pengaturan jam operasional yang manusiawi demi keselamatan.

Beberapa poin keluhan warga antara lain:

  • Truk beroperasi berbarengan dengan jam keberangkatan anak sekolah (pagi hari).
  • Lalu lintas Kaliwungu menjadi padat dan membahayakan siswa.
  • Polusi debu yang sangat pekat (ngabluk) mengganggu kesehatan.
  • Aktivitas truk yang masih berlangsung hingga malam hari.

“Silakan kalau mau operasi, asal jangan sebelum jam 8 pagi. Jangan sampai keselamatan anak-anak dikorbankan,” ujar Lisnurat.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten Kendal segera mengambil langkah tegas menertibkan jam operasional truk galian C tersebut agar tidak mengancam nyawa pengguna jalan dan kenyamanan warga. (ags/gih/fat)