REMBANG, Joglo Jateng – Dalam upaya meraih predikat sekolah Adiwiyata nasional, para siswa MAN 2 Rembang menghadirkan inovasi kreatif berupa daur ulang galon bekas menjadi pot tanaman yang edukatif. Gerakan massal yang melibatkan ribuan siswa ini tidak hanya menekan volume sampah plastik, tetapi juga menyulap lingkungan madrasah menjadi ruang terbuka hijau yang bernilai estetika tinggi.
Langkah strategis ini menjadi persiapan utama pihak sekolah setelah sebelumnya sukses lolos penilaian Adiwiyata di tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Kepala MAN 2 Rembang Akhmad Suhadak Solikin menyampaikan, program peduli lingkungan ini sangat sejalan dengan konsep ekoteologi yang digaungkan oleh Kementerian Agama (Kemenag).
Ekoteologi dan Pembentukan Karakter Siswa
Menurut Akhmad, ekoteologi mengajarkan bahwa mencintai alam merupakan bagian integral dari keimanan seorang muslim. Oleh karena itu, pihaknya bertekad penuh untuk mewujudkan lingkungan madrasah yang hijau, bersih, aman, dan nyaman untuk kegiatan belajar mengajar.
Program pelestarian alam tersebut juga terintegrasi langsung dengan gerakan Madrasah Ekoteologi Lestarikan Alam dan Tingkatkan Iman (MELATI).
“Harapannya, madrasah kita menjadi tempat yang sehat, rindang, dan indah, sekaligus membentuk karakter siswa yang peduli lingkungan,” tambahnya.

Sementara itu, Koordinator Adiwiyata MAN 2 Rembang Nur Chotimah menjelaskan, tujuan utama program ini bukanlah sekadar membenahi fisik bangunan. Lebih dari itu, madrasah menitikberatkan pada transformasi kebiasaan dan karakter peserta didik.
“Program Adiwiyata itu sebenarnya pembentukan karakter. Bagaimana siswa punya kepedulian terhadap lingkungan, mulai dari hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya,” jelas Nur.
Kelola Sampah 1.400 Siswa dan Hemat Air Wudu
Mengelola kebiasaan hampir 1.400 siswa diakui menjadi tantangan tersendiri bagi pihak madrasah. Sebagai solusi awal, sekolah telah menyediakan tong sampah terpilah antara jenis organik dan anorganik di berbagai sudut area belajar.
Guna memacu semangat kebersihan, madrasah rutin menggelar lomba antarkelas setiap tiga bulan sekali. Kelas dengan nilai kebersihan terbaik akan dianugerahi predikat kelas berkarakter.
Terkait pemanfaatan limbah, setiap kelas kini diwajibkan menyetor minimal lima pot tanaman dari hasil daur ulang galon mineral tak terpakai. Pot-pot ini kemudian ditanami beragam bibit dan dilengkapi dengan label nama ilmiah tanaman sebagai sarana edukasi silang antar-mata pelajaran.
“Ternyata anak-anak bisa dan kreatif. Ini juga membangun kepedulian, bahwa barang bekas di rumah bisa dimanfaatkan,” tuturnya.
Selain berinovasi dengan limbah plastik, pihak sekolah turut menerapkan konservasi sumber daya energi secara nyata. Siswa diajarkan mematikan lampu kelas saat terik siang hari, serta memanfaatkan air bekas wudu untuk pemeliharaan taman madrasah.
“Daripada terbuang, air wudu kita tampung dan gunakan untuk menyiram tanaman. Ini bagian dari edukasi hemat air,” pungkasnya. (uma/fat/rds)










