Oleh: Nur Ida Sulistiyani, S.Pd.SD
Guru SDN Bolo, Kec. Demak, Kab. Demak
PKN sebagai salah satu bidang studi yang memiliki tujuan membekali siswa untuk mengembangkan penalarannya disamping aspek nilai dan moral, banyak memuat materi sosial bersifat hafalan sehingga pengetahuan dan informasi yang diterima siswa sebatas produk hafalan. Sifat pelajaran PKn tersebut membawa konsekuensi terhadap proses belajar mengajar yang didominasi oleh pendekatan ekspositoris, terutama guru menggunakan metode ceramah sedangkan siswa kurang terlibat atau cenderung pasif. Dalam metode ceramah terjadi dialog imperatif. Padahal, dalam proses belajar mengajar keterlibatan siswa harus secara totalitas Jadi, dalam proses belajar mengajar, seorang guru harus mengajak siswa untuk mendengarkan, menyajikan media yang dapat dilihat, memberi kesempatan untuk menulis dan mengajukan pertanyaan atau tanggapan sehingga terjadi dialog, kreatif yang menunjukkan proses belajar mengajar yang interaktif positif. Situasi belajar seperti ini dapat tercipta melalui penggunaan pendekatan partisipatoris.
Permasalah yang muncul di sekolah saat melaksanakan pembelajaran siswa dalam bidang PKN adalah kurangnya motivasi dari diri siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar. Mereka kurang serius dalam memfokuskan diri dalam mengikuti materi pembelajaran. Hal ini karena dalam pelaksanaan belajar mengajar guru lebih sering menggunakan buku sebagai sumber belajar, dimana guru hanya menggunakan metode ceramah saja dalam menyampaikan dan menjelaskan materi pembelajaran PKN. Tidak adanya media peraga atau contoh gambar yang merupakan sarana pengetahuan nyata bagi siswa.
Tujuan pembelajaran interaktif berbasis aktivitas adalah sebagai berikut. (1) Meningkatkan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran; (2) meningkatkan pemahaman sosial antara siswa dengan lingkungan sekitar; (3) mendorong siswa untuk dapat menemukan dan menyelidiki sendiri konsep yang dipelajari mudah diingat dan tidak mudah dilupakan peserta didik; (4) membantu siswa membentuk cara kerja bersama yang efektif, saling membagi informasi, serta mendengar dan menggunakan ide-ide orang lain; dan (5) melatih siswa belajar berpikir analitis dan mencoba memecahkan masalah yang dihadapi sendiri.
Pembelajaran berbasis aktivitas memiliki karakteristik umum dalam pelaksanaan pembelajaran oleh guru baik dalam kelas maupun diluar kelas. Karakteristik pembelajaran interaktif berbasis aktivitas menurut permendikbud nomor 103 tahun 2014 bersifat (1) interaktif dan inspiratif; (2) menyenangkan, menantang, dan memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif; (3) kontekstual dan kolaboratif; (4) memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian siswa; dan (5) sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa.
Metode pembelajaran interaktif berbasis aktivitas sering dikenal dengan nama pendekatan pertanyaan anak. Metode ini dirancang agar siswa akan bertanya dan kemudian menemukan jawaban pertanyaan mereka sendiri. Pengembangan model pembelajaran interaktif berbasis aktivitas dalam PKn dapat dilakukan oleh guru pada semua pokok bahasan, dengan syarat harus memperhatikan beberapa hal.
Pertama, faktor minat dan perhatian. Kondisi belajar mengajar yang interaktif, yaitu adanya minat dan perhatian siswa dalam belajar, yang merupakan faktor utama penentu keaktifan siswa. Kedua, faktor motivasi. Motivasi adalah suatu proses untuk mengaitkan motif-motif menjadi perbuatan guna mencapai tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalam diri seseorang yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu. Motivasi belajar dapat timbul dari dalam diri siswa (motivasi intrinsik) dan pengaruh dari luar dirinya (motivasi ekstrinsik). Dalam konteks ini, guru berperan sebagai motivator untuk menumbuhkan kedua motivasi tersebut agar siswa dengan adanya potensi rasa ingin tahu (sense of curiosity), rasa ingin maju, dan lain-lain. Sedangkan motivasi ekstrinsik dapat timbul dari upaya guru melalui penerapan ganjaran dan penghargaan atau reward serta hukuman atau punishment (model S-R) yang diorientasikan pada upaya memotivasi siswa untuk belajar. (*)










