Oleh: Suwarni
SD Negeri Wonoagung 1, Karangtengah Demak
Joglo Jateng – Perubahan global yang terjadi dengan sangat cepat menempatkan sistem pendidikan di seluruh dunia pada posisi yang sangat penting. Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 menggunakan keterampilan abad ke-21 yang kompleks, seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi yang jauh melampaui sekadar penguasaan materi.
Indonesia sebagai negara yang besar memiliki visi ambisius untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Visi ini akan dapat tercapai jika kualitas sumber daya manusianya unggul yang dimulai dari sistem pendidikan yang kuat dan relevan (Hariyono, 2025). Pendidikan Indonesia menghadapi tantangan besar di tengah ketidakpastian global yang semakin kompleks dan sulit diprediksi.
Untuk menanggapi hal ini, transformasi pendidikan yang konstruktif dan berkelanjutan diperlukan. Tantangan internal yang mendesak adalah menurunnya kualitas pembelajaran yang kritis, bermakna, dan mendalam. Meskipun akses pendidikan sudah cukup baik, hasil survei internasional PISA menunjukkan rendahnya literasi dan numerasi murid Indonesia. Hal ini disebabkan oleh kesenjangan dalam efektivitas pembelajaran, di mana guru belum diberikan ruang untuk mengembangkan kreativitas dan keterampilan berpikir kritis (Veirissa, 2021 dalam Jurnal Ilmiah Pendidikan Citra Bakti, 2025).
Pemerintah telah berupaya untuk mewujudkan pendidikan yang lebih bermutu melalui berbagai kebijakan dan program. Salah satunya adalah implementasi Kurikulum Merdeka yang bertujuan untuk memberikan fleksibilitas kepada satuan pendidikan dalam merancang pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan murid. Mutu pendidikan sekolah dapat diperoleh apabila kepala sekolah dapat mengelola warga sekolah dengan baik. Pengelolaan yang baik dapat meningkatkan kinerja warga sekolah.
Untuk mewujudkan peningkatan mutu pendidikan dengan meningkatkan kinerja sekolah perlu adanya kerja sama seluruh warga sekolah (Widana et al., 2019 dalam Indonesian Journal of Educational Development). Kerja sama warga sekolah sangat penting, utamanya pada perkembangan zaman yang luas akan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Berkembangnya ilmu dan teknologi memiliki dampak positif pada bidang pendidikan akan tetapi juga berdampak negatif di masyarakat. Hal ini menjadi tantangan untuk pihak sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan tidak hanya bertumpu dari bidang akademik namun juga melalui pendidikan karakter (Sucipto, 2012). Salah satu kiatnya yaitu dengan pengelolaan KOMITMEN yang memfokuskan pada kolaborasi, kemitraan, dan pendekatan pembelajaran mendalam untuk meningkatkan kinerja sekolah.
Fokus utamanya dengan membangun kolaborasi dan kemitraan dengan didukung kualitas sumber daya manusia (kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan, murid, serta partisipasi orang tua murid juga komite sekolah). Khotimah (2019) mengemukakan bahwa fondasi penting dalam membentuk kepribadian dan akhlak mulia murid sejak dini adalah pendidikan karakter. Salah satu nilai karakter yang perlu ditanamkan yaitu karakter kolaborasi atau kerja sama. Nilai yang mendasari kolaborasi adalah tujuan yang sama, kesamaan persepsi, kemauan untuk berproses, saling memberikan manfaat, kejujuran, kasih sayang, serta berbasis masyarakat. Kesuksesan dalam pendidikan adalah hasil dari kolaborasi dari elemen-elemen dalam sistem pendidikan yang saling mendukung satu dengan yang lainnya (Sahlberg, 2010).
Kolaborasi sebagai suatu proses berpikir di mana pihak yang terlibat memandang aspek perbedaan dari suatu masalah serta menemukan solusi dari perbedaan dan keterbatasan pandangan atas apa yang dapat dilakukan sehingga kolaborasi merupakan wujud kerja sama dalam usaha penggabungan pemikiran sebagai proses interaksi beberapa orang secara berkesinambungan.
Kemitraan adalah bentuk komunikasi dengan orang tua murid, komite sekolah, lembaga sejenis, atau lintas lembaga. Kepala sekolah dapat bertukar pengalaman melalui komunikasi dengan lembaga, yang dimaksudkan untuk mencari dukungan dalam rangka pengembangan sekolah di luar bidang akademik (Dharma, 2010). Kemitraan harus dibangun secara terus-menerus, melalui komunikasi yang intensif. Hal-hal yang memengaruhi kemitraan di antaranya adanya kesamaan tujuan yang ingin dicapai, adanya bentuk empati yang bertujuan untuk memudahkan pencapaian tujuan bersama, dan kemauan untuk saling membantu dan saling melengkapi atas tujuan yang ingin dicapai bersama serta kedekatan psikologis yang terjalin antarpersonel yang akan bersinergi.
Menanggapi hal tersebut, konsep Pembelajaran Mendalam muncul sebagai pendekatan inovatif yang menawarkan solusi perubahan. Suyanto (2025) menjelaskan, Pembelajaran Mendalam tidak hanya sekadar perubahan dalam metode pengajaran, melainkan sebuah filosofi pendidikan yang berlandaskan prinsip-prinsip holistik dan berfokus pada murid. Penerapan Pembelajaran Mendalam akan memupuk motivasi dari dalam diri dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis juga kreatif serta membentuk karakter yang kokoh bagi murid.








