Oleh: Kepala SDN 2 Kebondalem, Titik Sumeri, S.Pd.SD., M.Pd
SETIAP 21 April, bangsa Indonesia memeringati Hari Kartini untuk mengenang perjuangan Raden Ajeng Kartini sebagai pelopor emansipasi wanita. Salah satu warisan pemikiran Kartini adalah kumpulan surat-suratnya Habis Gelap Terbitlah Terang. Kalimat ini menyimpan filosofi mendalam yang masih sangat relevan dengan kondisi zaman sekarang, terutama dalam bidang pendidikan. Ungkapan ini tak hanya sekadar rangkaian kata, tapi mengandung makna yang dalam baik secara historis maupun filosofis. Habis Gelap Terbitlah Terang menggambarkan perjalanan dari kebodohan menuju pencerahan. Dari penindasan menuju kebebasan. Dari keterkungkungan menuju kemerdekaan berpikir. Raden Ajeng Kartini bukan hanya sosok pejuang emansipasi wanita, tetapi simbol perubahan cara pandang terhadap pendidikan dan kemanusiaan.
Kartini dan Perjuangan Literasi
Kartini lahir dalam lingkungan priyayi Jawa yang memegang tradisi ketat. Perempuan dianggap sebagai pelengkap laki-laki. Kondisi ini tidak memengaruhi semangat belajar Kartini. Tidak pernah sedikitpun surut apalagi padam. Karena adat yang mengharuskan Kartini berhenti mengenyam bangku sekolah. Kartini terus belajar secara mandiri dan menjalin korespondensi dengan teman-teman di Negara Belanda. Buah pemikirannya tertuang dalam surat-suratnya. Sarat pemikiran pendidikan, kesetaraan gender, hingga kritik sosial terhadap budaya feodal. Dari sisi literasi Kartini menggunakan pena sebagai alat perjuangan. Ia sadar bahwa perubahan besar dimulai dari perubahan cara berpikir. Ia menanamkan pentingnya pendidikan. Bukan hanya bagi perempuan, tapi bagi seluruh bangsa. Baginya, perempuan yang terdidik akan melahirkan generasi yang lebih baik.
Gelap bagi Kartini lambang dari keterbelakangan, ketertinggalan, dan keterkungkungan yang dialami kaum perempuan pada masa itu. Lambang keterbatasan perempuan baik dalam pendidikan, peran sosial, maupun kebebasan berekspresi. Tidak boleh sekolah tinggi, dibatasi ruang geraknya, bahkan suaranya. Tidak dianggap dalam pengambilan keputusan keluarga dan masyarakat. Terang. sebuah harapan akan masa depan. Perempuan dapat berdiri sejajar dengan laki-laki. Terutama dalam hal intelektualitas dan peran dalam masyarakat. Kartini menghadirkan cahaya. Pendidikan sebagai kunci untuk keluar dari kebodohan dan ketidakadilan. Kartini menyuarakan keprihatinan terhadap kondisi pendidikan. Menunjukkan harapan besar, bahwa Perempuan dan seluruh rakyat Indonesia berhak mendapat kesempatan yang sama. Untuk belajar, tumbuh, dan berperan aktif dalam membangun bangsa.
Relevansi di Masa Kini
Semangat Habis Gelap Terbitlah Terang mengajarkan kita bahwa perubahan tidak datang begitu saja. Kemajuan teknologi hanyalah alat. Kiita harus terus menyalakan semangat belajar, berpikir kritis, dan peduli terhadap sekitar. Kartini pernah mengatakan bahwa, bukan saatnya lagi berdiam diri dalam kebodohan. Relevansi saat ini dengan memanfaatkan setiap peluang menjadi lebih baik. Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk lingkungan dan bangsa. Kita hidup di era yang jauh lebih terbuka. Semangat Kartini menjadi inspirasi terus memperjuangkan keadilan. Untuk perempuan juga untuk seluruh lapisan masyarakat yang masih berada dalam kegelapan.
Kini, kita hidup di era digital dan globalisasi. Akses terhadap pendidikan jauh lebih terbuka dibandingkan masa Kartini. Laki-laki maupun perempuan dapat mengenyam pendidikan dari jenjang dasar hingga perguruan tinggi. Teknologi menghadirkan kemudahan belajar seperti e-learning, perpustakaan digital dan berbagai platform belajar daring memberikan peluang besar untuk mengembangkan diri. Semangat Habis Gelap Terbitlah Terang tercermin dalam berbagai kebijakan dan regulasi yang diupayakan pemerintah demi pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan. Program Wajib Belajar 12 tahun menuju wajib belajar 15 tahun adalah bentuk nyata dari tekad negara. Agar seluruh anak Indonesia, tanpa terkecuali, mendapatkan akses pendidikan yang layak hingga jenjang menengah atas. Program Indonesia Pintar (PIP) yang memberikan bantuan langsung kepada siswa dari keluarga kurang mampu. Agar mereka tidak putus sekolah karena keterbatasan biaya. Ini bentuk terang baru dalam mengatasi keterbatasan ekonomi. Terbaru regulasi yang mendorong inklusi pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. Sekolah wajib menerima peserta didik yang berkebutuhan khusus. Di masa lalu, mereka disembunyikan atau tidak diberi ruang belajar yang layak. Kini, negara hadir untuk memberi mereka hak yang sama dalam memperoleh pendidikan dan masa depan.
Habis Gelap Terbitlah Terang bukan sekadar ungkapan puitis. Merupakan sebuah ajakan untuk terus berjuang menembus batas, menggali potensi, dan membebaskan diri dari belenggu kebodohan dan ketidakadilan. R.A. Kartini telah menyalakan obor cahaya itu. Kini, tugas kita untuk menjaganya tetap menyala dan menerangi jalan generasi berikutnya. Habis Gelap Terbitlah Terang adalah pesan lintas zaman. Dulu surat-surat Kartini ditulis dengan pena sederhana, kini kita menyuarakan semangat itu melalui layar digital, ruang kelas, bahkan media sosial. Terangnya zaman sekarang hasil dari perjuangan panjang RA Kartini dan para pahlawan bangsa. Tugas kita memastikan cahaya itu tidak padam melalui pendidikan yang inklusif, adil, dan memerdekakan setiap insan. (*)









