Dongkrak Literasi Siswa dengan SASI SAKU (Satu Siswa Satu Buku)

Oleh: Muhadi, S.Ag.,S.Pd.SD.,M.Pd.
Guru SD Negeri Balerejo 1 Kecamatan Dempet Kabupaten Demak

PENINGKATAN literasi menjadi salah satu fokus utama dalam dunia pendidikan saat ini. Di tengah gempuran informasi digital, kemampuan membaca dan memahami teks menjadi kunci bagi siswa untuk beradaptasi dan berkembang. Menyadari urgensi ini, SD Negeri Balerejo 1, Kecamatan Dempet, Kabupaten Demak, meluncurkan sebuah inisiatif inovatif bernama SASI SAKU (Satu Siswa Satu Buku). Program ini bertujuan untuk mendongkrak minat baca dan kemampuan literasi siswa melalui pendekatan yang sederhana namun berdampak besar.

Latar belakang munculnya gagasan SASI SAKU tak lepas dari observasi penulis akan minimnya interaksi siswa dengan buku di luar jam pelajaran. Banyak siswa SD, khususnya di era digital, cenderung lebih tertarik pada gawai atau permainan dibandingkan membaca buku. Padahal, membaca adalah fondasi penting untuk menguasai berbagai mata pelajaran dan mengembangkan wawasan.

Ibu Kepala Sekolah bersama penulis selaku koordinator program, berdiskusi mencari cara efektif untuk menumbuhkan cinta membaca. Dari sinilah lahir gagasan SASI SAKU, sebuah program di mana setiap siswa memiliki “bukunya sendiri” untuk dibaca dan ditukarkan secara berkala. Gagasan ini sederhana: menjadikan buku sebagai bagian tak terpisahkan dari keseharian siswa, bahkan saat istirahat.

SASI SAKU adalah akronim dari Satu Siswa Satu Buku. Secara harfiah, program ini memastikan setiap siswa dari kelas 4 sampai 6 SD di SD Negeri Balerejo 1 selalu memiliki satu buku bacaan di tangan mereka. Buku ini bukan milik pribadi siswa, melainkan buku pinjaman dari koleksi sekolah yang akan ditukar secara bergantian.

Langkah penerapan program ini dirancang sangat praktis yaitu: 1)Pengadaan Buku: Sekolah menyediakan beragam jenis buku bacaan yang menarik dan sesuai dengan usia siswa, mulai dari cerita fiksi, buku pengetahuan umum, hingga biografi tokoh inspiratif. 2)Jadwal Rutin: Kegiatan pertukaran buku dilaksanakan dua kali dalam seminggu, setiap waktu istirahat kedua. Ini memastikan siswa memiliki waktu yang cukup untuk membaca buku mereka di rumah atau di sekolah sebelum menukarnya. 3)Mekanisme Pertukaran: Pada hari yang ditentukan, siswa berkumpul di area yang telah disiapkan (misalnya, pojok baca atau perpustakaan mini). Mereka menyerahkan buku yang telah selesai dibaca dan memilih buku baru dari rak yang tersedia. Guru kelas atau pustakawan mendampingi proses ini untuk memastikan kelancaran dan memberikan rekomendasi buku jika diperlukan. 4)Bimbingan dan Motivasi: Guru-guru secara aktif memotivasi siswa untuk membaca, bahkan kadang memberikan sesi singkat diskusi tentang buku yang sedang dibaca siswa.

Manfaat dari program SASI SAKU ini sangatlah beragam yaitu: 1)Meningkatnya Minat Baca: Dengan ketersediaan buku yang mudah diakses dan beragam pilihan, siswa diharapkan lebih termotivasi untuk membaca. Rasa kepemilikan sementara terhadap buku juga menumbuhkan tanggung jawab. 2)Peningkatan Kemampuan Literasi: Paparan rutin terhadap berbagai jenis teks akan memperkaya kosa kata siswa, meningkatkan pemahaman bacaan, serta melatih kemampuan inferensi dan analisis. 3)Membiasakan Diri dengan Buku: Aktivitas membaca menjadi kebiasaan yang menyenangkan, bukan lagi sekadar tugas. 4)Pemanfaatan Waktu Istirahat: Waktu istirahat kedua yang biasanya diisi dengan bermain, kini dapat dimanfaatkan secara produktif untuk membaca dan memperluas wawasan. 5)Pengembangan Karakter: Melalui buku, siswa dapat belajar tentang nilai-nilai moral, empati, dan berbagai perspektif kehidupan.

Penulis optimis SASI SAKU selalu menjadi pendorong signifikan dalam upaya meningkatkan literasi siswa di SD Negeri Balerejo 1. Program ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan mereka. Penulis melihat antusiasme anak-anak yang luar biasa. Sehingga penulis yakin SD Negeri Balerejo 1 akan menjadi garda terdepan dalam mencetak generasi Demak yang gemar membaca dan berpikir kritis. (*)