Jelang Ramadan, Harga Bunga Tabur Turun

PETIK: Seorang petani bunga tabur proses produksi memanen bunga mawar di Dukuh Gataksemunu, Desa Cluntang, Kecamatan Musuk, Boyolali, belum lama ini. (ANTARA/JOGLO JATENG)

BOYOLALI, Joglo Jateng – Harga bunga tabur di tingkat petani Desa Cluntang, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali jelang Ramadan 1443 Hijriah justru turun sebanyak Rp 5.000/kilogram. Sehingga menjadi Rp15.000/kg.

Salah satu petani bunga tabur di Dujuh Gataksemunu Desa Cluntang Boyolali, Sumarno (35) mengatakan, harga bunga tabur kondisi normal rata-rata di tingkat petani mencapai Rp 20.000/kg. Tetapi kini turun menjadi Rp15.000/kg.

“Harga bunga tabur untuk saat ini turun sangat drastis. Dan diharapkan mendekati bulan puasa nanti bisa meningkat seperti tahun-tahun sebelumnya,” terangnya, Kamis (17/3).

Menurut dia, menjelang puasa biasanya permintaan pasar meningkat. Mengingat adanya tradisi warga melaksanakan ziarah ke makam leluhur (tradisi Sadranan). Biasanya, harga bisa mencapai Rp 50.000/kg. Bahkan, harga bunga jelang bulan puasa bisa mencapai Rp 100.000/kg.

Bunga tabur asal Boyolali biasanya memenuhi kebutuhan pesanan dari luar kota. Seperti Daerah Istimewa Yogyakarta, Magetan, Madiun Jawa Timur, Klaten, dan Solo Jawa Tengah.

Sumarno menjelaskan, dari lahan seluas 1.000 meter persegi, sekali panen mencapai sekitar 10 kg pada panenan pertama. Namun, setelah itu, produksi petik bunga bisa mencapai rata-rata 15 kg per hari.

Sri Mursiti (35), petani bunga tabur lainnya menyebut, harga bunga tabur di tingkat petani sepekan sebelumnya sempat naik. Namun, pekan ini kembali turun. Hanya ditawar Rp 15.000/kg. Harga normal bunga tabur rata-rata Rp 20.000/kg.

Kendati demikian, Sri Mursiti berharap bertepatan tradisi sadranan harga bunga tabur kembali naik dan bisa mencapai di atas Rp 20.000/kg.

Mursiti menambahkan, untuk setiap hari bisa memanen sekitar 5 kg hingga 6 kg bunga. Dia berharap menjelang tradisi sadranan, permintaan pasar bertambah dan hasil panen rata-rata juga meningkat mencapai 8 kg per hari.

“Saya menanam tanaman bunga mawar merah dan putih yang banyak diminati pelanggan saat acara tradisi sadranan menjelang puasa, juga bertepatan panen raya di desa ini,” katanya.

Sementara itu, warga masyarakat Desa Cluntang Musuk Boyolali mayoritas menanam tanaman bunga tabur jenis mawar. Baik warna merah maupun putih. Kebanyakan petani menanam bunga terutama di halaman rumah yang lahannya agak luas guna menambah penghasilan dan meningkatkan ekonomi mereka. (ara/ern)