Demak  

Minyak Goreng Langka, Pedagang Resah

KONDISI: Pedagang saat mempunyai stok minyak goreng di pasar tradisional, belum lama ini. (LU'LUIL MAKNUN /JOGLO JATENG)

DEMAK, Joglo Jateng – Minyak goreng seolah menghilang keberadaannya di pasar tradisional di Demak. Hal ini di rasakan oleh pedagang di Pasar Karangawen dan pedagang di Pasar Bintoro Demak. Baik minyak goreng curah maupun kemasan keduanya tidak ada stok yang cukup untuk memenuhi permintaan pelanggan.

Salah satu pedagang di Pasar Karangawen, Asih (60) mengatakan, sudah seminggu tokonya tidak memiliki persediaan minyak goreng. Ia mengaku sudah pesan dengan sales dan tidak ada pembatasan pembelian minyak goreng seperti sebelumnya.

“Sudah semingguan tidak ada stok, boleh ambil berapapun, harga juga sudah Rp 23.500 dari sana, jadi nanti dijual sekitar harga Rp 24.000-25.000 ribu,” katanya Minggu (20/3).

Asih (60) menambahkan, telah memesan kepada sales minyak goreng dengan harga baru yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Namun barang tidak kunjung dikirim oleh sales karena tidak ada stok. Ia mengaku resah dengan kelangkaan minyak goreng pada saat ini, karena tokonya tidak dapat memenuhi permintaan pelanggan.

“Sudah order janjinya mau dikirim Selasa atau Rabu, tapi pada hari itu sales malah tidak datang, repot pokoknya,” ungkapnya.

Sementara itu, salah satu pedagang di Pasar Bintoro Demak, Arwani (42) mengaku sudah dua hari tokonya tidak menjual minyak goreng, baik minyak curah maupun minyak goreng kemasan. Dirinya mengaku sudah pesan kepada sales minyak goreng, namun masih belum ada kepastian akan dikirim kapan.

“Kemarin sampai sekarang nggak jual minyak, satu biji pun tidak ada. Mumet, pusing saya merasakan minyak. Kemarin ada subsidi, sekarang dicabut, ya sama saja,” ungkapnya.

Toko milik Arwani yang juga agen minyak goreng curah ini pun tidak terlihat adanya stok minyak. Ia menjelaskan, stok minyak goreng curah pun tak ada, biasanya toko miliknya menyuplai minyak goreng curah satu tangki untuk penjualan dua hari.

“Memang habis, nggak ada stok. Subsidi sudah tidak ada, kemarin dari pemerintah sudah dicabut jadi harga normal Rp 18 ribu. Ini digunjang-ganjing lagi, kemasan nggak ada curah nggak ada, repot kan,” keluh Arwani. (cr3/gih)