Oleh: Siti Maryam, S.Pd.I
Guru PAI SDN 03 Pedurungan, Kec. Taman, Kab. Pemalang
BERPIKIR kritis menurut Wulandari (2017:39) yaitu aktivitas mental individu untuk membuat keputusan dalam memecahkan masalah yang dihadapi dengan berbagai informasi yang sudah diperoleh melalui beberapa kategori. Sedangkan berpikir kritis menurut Mertes (1991) adalah sebuah proses yang sadar dan sengaja yang digunakan untuk menafsirkan dan mengevaluasi informasi dan pengalaman dengan sejumlah sikap reflektif dan kemampuan yang memandu keyakinan dan tindakan.
Salah satu penyebab rendahnya keterampilan berpikir kritis siswa yaitu karena pelaksanaan pembelajaran yang lebih memfokuskan siswanya untuk menghafal, tanpa memperhatikan pengembangan kemampuan berpikirnya. Hal ini membuat siswa mengalami kesulitan ketika mengemukakan ide-ide atau pendapat dalam proses pembelajaran, siswa kurang mampu untuk menghitung, serta menyimpulkan materi zakat dengan menggunakan kata-kata sendiri.
Zakat adalah salah satu rukun Islam yang mendidik setiap muslim untuk menjadi orang yang peduli kepada sesama, serta menjadi solusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Zakat dapat diartikan dengan harta yang dikeluarkan seseorang yang memiliki harta yang lebih untuk diberikan kepada orang yang berhak menerima dengan kadar zakat yang ditentukan. Hal ini sebagaimana tertuang dalam Undang-undang RI No. 23 Tahun 2011, bahwa Zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim atau badan usaha untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan syariat Islam. Penentuan zakat memerlukan pemahaman konsep matematis. Hal inilah yang membuat sebagian besar siswa menganggap bahwa materi zakat sulit. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki keterampilan berpikir kritis adalah melalui metode pembelajaran Pictorial Riddle.
Metode pembelajaran Pictorial Riddle merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk memperbaiki keterampilan berpikir kritis siswa Sekolah Dasar (SD). Metode pembelajaran Pictorial Riddle disebut juga dengan metode teka teki bergambar, yang merupakan salah satu teknik untuk mengembangkan motivasi dan perhatian serta meningkatkan berpikir kritis siswa di dalam diskusi kelompok.
Adapun langkah-langkah metode Pictorial Riddle menurut Sudirman dkk. (Adela,2003:17) adalah sebagai berikut : 1) penyajian masalah, siswa diundang ke dalam suatu permasalahan berupa peristiwa yang menimbulkan teka teki permasalahan tersebut disajikan dalam bentuk gambar; 2) pengumpulan dan verifikasi data; 3) mengidentifikasi masalah secara berkelompok dari permasalahan yang diberikan; 4) mengadakan eksperimen dan pengumpulan data; 5) melakukan pengamatan berdasarkan riddle (gambar) yang mengandung permasalahan. 6) siswa merumuskan penjelasan; 7) siswa melakukan diskusi; 8) siswa melakukan tanya jawab.
Menurut Sudirman, dkk (1992), keunggulan dari metode pembelajaran Pictorial Riddle adalah sebagai berikut: 1) strategi pembelajaran menjadi berubah dan yang bersifat penyajian informasi oleh guru kepada siswa sebagai penerima informasi yang baik, tetapi proses mentalnya berkadar rendah. Menjadi pengajaran yang menekankan kepada proses pengolahan informasi di mana siswa yang aktif mencari dan mengolah sendiri informasi yang kadar proses mentalnya lebih tinggi atau lebih banyak; 2) siswa akan menguasai konsep-konsep dasar atau ide lebih baik; 3) membantu siswa dalam menggunakan ingatan dan dalam rangka transfer kepada situasi proses belajar yang baru; 4) mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri; 5) memungkinkan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar yang tidak hanya menjadikan guru sebagai satu-satunya sumber belajar; 6) metode ini dapat memperkaya dan memperdalam materi yang dipelajari, sehingga pengetahuannya tahan lama dalam ingatan.
Dengan penggunaan metode Pictorial Riddle dengan memanfaatkan media sederhana berupa papan riddle beserta kartu teka-teki, kartu gambar di dalam kegiatan diskusi kelompok mampu meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Hal ini tidak terlepas dari peran seorang guru dalam merancang pembelajaran dengan memperhatikan karakteristik siswa. (*)










