Perkuat Budaya Literasi Sebagai Pengembangan Diri

Kepala SMPN 2 Pleret, Ratna Handarini. (ANDREAN ADI FIDIANSYAH/JOGLO JATENG)

BANTUL, Joglo Jogja – Dalam memperkuat budaya literasi pada lingkungan sekolah, rupanya SMPN 2 Pleret memiliki cara tersendiri. Setiap paginya, selama 15 menit siswa-siswi di SMPN 2 Pleret dibiasakan untuk mendengar sebuah kisah maupun legenda melalui audio yang dapat didengarkan seisi sekolah.

Mairina Mislamatul Umaroh, selaku Guru Bahasa Indonesia yang bertanggung jawab dalam bidang literasi sekolah menyampaikan, bahwa respon siswa dan siswi sangat baik. Bahkan saat briefing di Hari Senin, anak-anak diminta untuk menuliskan karya sastra atau karya tulis dan hasilnya sangat memuaskan.

“Untuk hari Rabu dan Jumat memang hari khusus, jadi kita memperdengarkan kultum dan tadarus. Hal ini bertujuan agar selain siswa memperdalam literasi, siswa juga tetap memperdalam ilmu agama. Tentunya dengan tema yang berdekatan dengan anak dan didampingi oleh Bapak atau Ibu guru agama,” paparnya, Kamis (1/9).

Mairina menerangkan, bahwa setiap Selasa murid-murid diputarkan pengetahuan, seperti kisah-kisah tokoh atau ilmuwan. Kemudian pada Rabu pihaknya memutarkan kisah yang berkaitan erat dengan sastra. Misalnya yang berbau dongeng, legenda atau cerita rakyat.

“Contohnya saja cerita Joko Tingkir, yang saat ini sedang booming, sehingga anak anak juga tau siapa sebenarnya Joko Tingkir ini,” ujarnya.

Sementara itu kepala SMPN 2 Pleret, Ratna Handarini menambahkan, bahwa kegiatan ini dapat dijadikan sebagai media untuk melihat bibit-bibit atau talent. Kira-kira anak mana yang mencintai dunia sastra atau memiliki bakat menulis.

Dengan adanya kegiatan gerak literasi ini Ia ingin mengingatkan pada siswa-siswi di sekolah bahwa negara kita ini kaya sekali akan cerita dan legenda. Meski tidak mudah, ia berharap dapat memeperkenalkan budaya daerah melalui kegiatan literasi ini.

Ratna juga berharap, dari pesan moral yang terkandung dalam cerita atau kisah yang diperdengarkan kepada siswa dapat menjadi nasihat secara tidak langsung. Sekaligus dapat memupuk rasa cinta terhadap negara. Sehingga siswa mampu mengembangkan diri mereka.

“Kembali lagi harapanya pesan moral ini bisa tersampaikan, kasih sayang antar siswa makin meningkat begitu juga pengetahuan dan wawasan. Tidak ada lagi perundungan, kekerasan dan hal yang tidak diinginkan,” pungkasnya. (mg1/bid)