JEPARA, Joglo Jateng – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) telah melakukan mitigasi untuk menghadapi ancaman krisis pangan beberapa tahun ke depan. Saat ini, Jepara telah surplus beras sampai 37.000 – 40.000 ton.
Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DKPP Kabupaten Jepara, Ratib, sebelum Jokowi menginstruksikan bersiap menghadapi resesi pangan 2023, Jepara telah membuat program ketahanan pangan.
“Sudah kami lakukan dan sebagai program dari DKPP, sehingga saat ini menghasilkan surplus 37.000 sampai 40.000 ton untuk menghadapi resesi pangan yang diprediksi oleh pak Presiden muncul di tahun 2023,” papar Ratib saat dihubungi Joglo Jateng, Rabu (2/11/22).
Pihaknya menambahkan, dalam menghadapi resesi terdapat dua pilihan, yakni survive dan atau membeli. Sehingga, diperlukan berbagai macam pertimbangan untuk memastikan arah gerak ke depan.
“Apabila memilih survive, maka mitigasi diperhitungkan sedemikian matang, seperti stok swasembada beras yang cukup. Namun, jika memilih membeli, maka modal yang dikeluarkan mesti diperhitungkan dengan pasti,” imbuh dia.
Kemudian, ia juga menjelaskan, komoditas utama sebagai bahan pangan tertinggi di Jepara, dinobatkan kepada beras, singkong dan jagung. “Pari, telo, jagung itu yang paling tinggi. Namun, di Jepara sendiri masih ada yang kecil-kecil seperti kacang ijo, kacang tanah, dan kacang panjang,” pungkasnya. (cr2/gih)










