JEPARA, Joglo Jateng – Sampah di Kabupaten Jepara setiap harinya terus mengalami penumpukan. Jika dibiarkan, akan berdampak buruk pada lingkungan, juga iklim. Hal itu, yang mendorong Organisasi Jepara Green Generation (JEGEG) turun ke Desa Menganti, Kabupaten Jepara, Minggu (21/5/23).
Organisasi yang berorientasi pada tatanan lingkungan ini, melirik ibu-ibu dari Kelompok Wanita Tani (KWT) Menganti. Pasalnya, terdapat program memanfaatkan pekarangan rumah, dengan cara bercocok tanam. Beberapa sayuran dan buah-buahan turut ditanam KWT.
Setali tiga uang, JEGEG berorientasi pada lingkungan, termasuk tanam. Sehingga, bagi Ketua JEGEG, Hana mengaku bahagia. Karena memiliki partner dari sektor pemerintahan yang sefrekuensi.
Oleh sebab itu, JEGEG yang berkontribusi pada program Pemimpin Muda untuk Iklim 2 yang diselenggarakan oleh Teens Go Green Indonesia. Ini juga disoundingkan bersama Plan Indonesia melalui Program Urban Nexus yang didukung oleh ANCP-DFAT dan Plan Australia.
Saat ini, membuat mengimplementasikan media tanam. Selain dapat mengurangi sampah rumah tangga, dengan menanam di dapur atau pekarangan sendiri dapat menghemat biaya pengeluaran dapur.
“Ini sudah kali kedua di Menganti, petingginya responsif dan menyambut baik. Ini program yang baik. Karena tujuannya mengurangi krisis iklim dan mengurangi biaya keperluan dapur. Sebab, sayur dapat dipetik sendiri di rumah,” papar Hana kepada Joglo Jateng, Minggu (21/5).
Pada kesempatan ini, JEGEG telah membagikan kepada ibu-ibu KWT sejumlah 120 bibit. Terdiri dari kangkung, kacang panjang, dan juga sawi. Prosesnya, anggota KWT membuat medianya terlebih dahulu, baru kemudian menanam.
Perempuan berumur 23 Tahun ini, turut menggandeng Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jepara, Nasirin dan ada pula 20 ibu-ibu warga Desa Menganti. Setelah penanaman, Hana dan tim bakal lalukan follow up.
“Monitoring composting, apakah bibit yang ditanam ibu-ibu bakal tumbuh atau panen banyak. Akan kami cek ke depannya,” ujar Hana.
Sementara itu, Petinggi Desa Menganti, Ali Mansur berharap untuk terus dilakukan pembinaan kepada warganya. Sebab, pengetahuan dibutuhkan demi pemanfaatan pekarangan, sebagaimana program KWT Menganti.
“Terus-terusan tidak masalah, justru bagus. Karena warga semakin terdidik. Ilmu yang didapat akan diterapkan di rumah masing-masing. Semoga manfaat,” jelas Ali Mansur.
Sebagai informasi, selama lebih kurang 6 bulan, JEGEG telah mendampingi ibu ibu rumah tangga di Desa Menganti untuk mengolah limbah sampah organik mereka. Sebelumnya telah dilakukan kegiatan Sosialisasi Manajemen Pengolahan Sampah (Mlampah), Workshop Praktek Composting dan Penukaran Minyak Jelantah (Jutawan) yang sudah dilaksanakan dari Februari.
Program Dapur Kebunku ini adalah rantai akhir dalam mengubah sampah yang telah diubah menjadi kompos, untuk dimanfaatkan menjadi media tanam sayuran organik di pekarangan rumah masyarakat. (cr2/fat)










