Perlahan Tapi Pasti, Wisata Kudus Bangkit Kembali

Masjid Menara Kudus
MULAI RAMAI: Masjid Menara Kudus yang menjadi salah satu destinasi wisata relegi yang ikonik di Kota Kretek yang mulai didatangi peziarah dari berbagai daerah, setelah sempat ditutup akibat penyebaran Covid-19. (KUKUH/ JOGLO JATENG)

KUDUS – Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) membuat industri pariwisata di Kabupaten Kudus, sempat melemah karena berbagai lokasi wisata ditutup selama beberapa bulan. Hal ini dilakukan demi mencegah penyebaran maupun adanya klaster penyebaran virus corona.

Tercatat sejak Maret 2020, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus menginstruksikan semua objek wisata untuk ditutup sementara agar tidak terjadi penularan. Hingga akhirnya, bulan Agustus 2020 setelah semua daerah melakukan penelusuran kontak erat serta pengujian kesehatan mulai dari tes cepat (rapid test) hingga tes usap tenggorokan (swab) objek wisata diperbolehkan buka kembali.

Hanya saja, karena masih tahap simulasi dan untuk memastikan bahwa semua objek wisata di Kota Kretek siap menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Mulai dari menyiapkan petugas yang akan memeriksa suhu tubuh setiap pengunjung guna mendeteksi ada tidaknya pengunjung yang memiliki suhu tubuh di atas 27 derajat. Serta meminta untuk mencuci tangan, disiplin memakai masker, serta menjaga jarak.

“Awal buka, hanya terbatas untuk wisatawan lokal guna mengetahui hasil simulasinya apakah para pengelola objek wisata siap beradaptasi di masa tatanan kehidupan baru,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus Bergas Catursasi Penanggungan.

Hasil evaluasi Tim Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 Kudus, akhirnya mengizinkan semua objek wisata beroperasi untuk bangkit di era tatanan kehidupan baru dengan aturan protokol kesehatan yang ketat.

Ia berharap fokus pemulihan tidak hanya di sektor kesehatan, melainkan sektor ekonomi dan pariwisata juga harus sama-sama dipulihkan kembali membangkitkan produktifitas masyarakat.

Upaya pemulihan ekonomi di sektor pariwisata juga menjadi perhatian Pemerintah Pusat dengan menyelenggarakan bimbingan teknis terhadap pengelola wisata alam, budaya dan buatan untuk mulai penerapan protokol kebersihan, kesehatan, keamanan, dan ramah lingkungan (Health, Safety and Environmental Sustainability/CHSE).

Penerapan CHSE tersebut, bertujuan untuk untuk mengaktifkan kembali sektor pariwisata di masa pandemi Covid-19.

Menurut Bergas, adaptasi memang memegang peranan penting terhadap kelangsungan sektor pariwisata saat ini. Terlebih lagi, dampak yang dirasakan pada sektor ini tak hanya dirasakan secara langsung oleh pengelola tempat wisata saja. Melainkan para pelaku usaha lain yang terlibat di dalamnya, dalam hal ini usaha mikro kecil menengah (UMKM) juga ikut terdampak.

Untuk itulah, beragam cara ditempuh mulai dari menerapkan tatanan kehidupan baru di tengah pandemi hingga promosi wisata dari masing-masing pengelola destinasi wisata.  Jejaring media sosial maupun media lain yang efektif dan murah. dimanfaatkan secara maksimal untuk mempromosikannya.

Demi menjamin penerapan CHSE berjalan dengan baik, pengelola objek wisata juga harus rutin melakukan pembersihan kawasan wisata. Termasuk arena permainan maupun fasilitas lain untuk wisatawan dengan cairan disinfektan, ketersediaan sarana mencuci tangan dengan sabun, serta tempat sampah yang bersih.

“Pengelola wisata memang dituntut menjalankan ketat ketentuan tersebut. Jika timbul klaster baru, maka tidak menutup kemungkinan akan diambil langkah penutupan demi mencegah penyebaran yang lebih luas,” imbuh Bergas.

Hampir semua objek wisata di Kudus, baik yang dikelola pemerintah maupun swasta sudah mulai beroperasi kembali dan masyarakat juga mulai membiasakan diri dengan protokol kesehatan ketika berkunjung ke sejumlah objek wisata di Kabupaten Kudus.

Meskipun sudah buka kembali, pendapatan masing-masing pengelola objek wisata dipastikan belum pulih 100 persen, mengingat daya beli masyarakat juga terdampak akibat masa pandemi Covid-19.

Hal itu, bisa dilihat dari indikator penerimaan pendapatan asli daerah (PAD) yang mengandalkan sejumlah objek wisata di Kudus. Seperti Taman Ria Colo, Museum Kretek, Museum Patiayam, serta Taman Krida belum pulih 100 persen.

Demi menjaga agar tidak muncul klaster penularan virus corona di lokasi objek wisata, masing-masing pengelola objek wisata juga menerapkan aturan protokol kesehatan secara ketat. Ketika masuk kawasan wisata langsung ada petugas yang mengecek suhu tubuh, kemudian memastikan memakai masker dan diminta mencuci tangan terlebih dahulu.

Hampir di setiap sudut lokasi wisata, juga terpampang spanduk berukuran besar serta poster yang mengingatkan pengunjung untuk disiplin memakai masker dan menjaga jarak aman dengan pengunjung lainnya.

Juru bicara Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus, Deny Nur Hakim membenarkan bahwa dalam rangka mengingatkan pengunjung di makam dan Masjid Sunan Kudus di sejumlah lokasi strategis dipasang imbauan memakai masker, mencuci tangan dan jaga jarak aman.

“Petugas juga tidak lelah mengingatkan para peziarah agar menjaga jarak aman saat berada di kompleks Makam Sunan Kudus,” ujarnya.

Aturan soal protokol kesehatan, katanya tidak bisa ditawar karena peziarah yang kedapatan tidak membawa masker tidak diizinkan masuk ke kompleks makam.

Walaupun hampir di semua daerah menggaungkan kewajiban mematuhi protokol kesehatan, tetap saja ada peziarah yang tidak membawa masker sehingga petugas melarangnya masuk sebelum membawa masker.

Tempat cuci tangan juga tersedia cukup banyak sehingga ketika datang rombongan peziarah dalam jumlah banyak, tetap bisa terlayani dengan tetap menjaga jarak aman.

Jumlah wisatawan masih minim

Pemerintah Pusat memang sudah berupaya maksimal memulihkan kembali sektor pariwisata, termasuk di Kabupaten Kudus dengan memberikan pelatihan penerapan protokol CHSE agar pengunjung juga mendapat jaminan keamanan tidak akan tertular penyakit, terutama virus corona.

Hanya saja, jumlah kunjungan wisatawan diakui sejumlah pengelola wisata belum pulih 100 persen karena jumlah kunjungan masih sedikit.

“Untuk masyarakat lokal Kudus, jumlah kunjungannya belum pulih seperti sebelum pandemi Covid-19,” ujarnya.

Sedangkan wisatawan yang berasal dari luar kota, juga tidak berbeda jauh karena masih sepi. Pemandangan serupa juga terlihat di kompleks Makam Sunan Muria yang biasanya ramai pengunjung, terutama akhir pekan dianggap masyarakat setempat masih tergolong sepi.

Masdullah, salah satu penyedia jasa ojek Makam Sunan Muria mengakui jumlah wisatawannya memang belum banyak seperti sebelumnya. Jika sebelumnya bisa melayani pengantaran peziarah menuju makam hingga delapan kali, maka saat ini baru separuhnya.

“Itupun dapat orderan banyak saat akhir pekan saja, selebihnya sepi,” ujarnya.

 Usaha kuliner turut bersemangat

Kembali bangkitnya sektor industri pariwisata, direspons positif pelaku usaha yang bergerak di bidang kuliner dengan memanfaatkan jalur wisata di kawasan Colo Muria yang memang tersedia aneka tempat wisata. Mulai dari wisata religi, alam, hingga wisata buatan tersedia di kawasan tersebut, pengunjung hanya tinggal memilih mana yang disukai.

Sepanjang Jalan Kudus-Colo, terlihat bermunculan bisnis kuliner baru yang menawarkan aneka konsep tempat jualan untuk menarik minat wisatawan yang sudah lelah berkunjung ke sejumlah objek wisata untuk mampir melepas penat sambil minum minuman khas Colo, yakni kopi muria hingga getuk “nyimut” yang menjadi makanan khas setempat.

Kepala Desa Japan, Sigit Triharso mengakui di masa pandemi seperti sekarang, bukannya sepi investasi, justru banyak pihak yang menanamkan investasinya, terutama dalam bisnis kuliner. Ia mengatakan, di desanya saja, tercatat ada empat lokasi usaha kuliner yang memadukan nuansa alam sekitar dengan usaha kafe sebagai upaya menarik minat wisatawan.

“Semua bisnis kuliner yang memadu konsep wisata alam tersebut, juga bergantung dengan tingkat kunjungan wisatawan yang berkunjung ke Objek Wisata Colo,” ujarnya.

Objek Wisata Air Tiga Rasa di Desa Japan menjadi primadona yang serasi dengan Desa Colo. Desa Colo memiliki lokasi wisata andalan, berupa Makam Sunan Muria juga kembali bergeliat.

Hal ini juga berdampak pada perekonomian masyarakat sekitar yang mengandalkan kunjungan wisatawan. Seperti pedagang, jasa ojek, serta penginapan maupun penjual jasa lainnya juga mulai ramai kembali, meski belum 100 persen seperti sedia kala. Namun, fenomena ini menjadi angin segar bagi warga sekitar.

Bangkitnya pariwisata akan memperbaiki perekonomian yang sempat terganggu akibat Covid-19. Untuk itu, momen ini dimanfaatkan dengan maksimal untuk mewujudkan Kota Kretek sebagai daerah yang memiliki lokasi wisata beragam dan menarik. Baik dari segi wisata alam, agama dan kebudayaan.(akh)