DEMAK – Pandemi Covid-19 berdampak luas pada sektor kehidupan manusia. Salah satu sektor yang terdampak cukup kuat di Kabupaten Demak adalah sektor pariwisata.
Kasi Pengembangan Produk Objek Daya Tarik Wisata, Dinas Pariwisata (Dinparta) Kabupaten Demak, Bambang Purnomo menyampaikan, pandemi Covid-19 menjadikan sektor pariwisata melemah. Dampak Covid-19 dirasakan langsung oleh pengelola wisata, restoran, dan pelaku usaha kretiaf lainnya.
“Melemahnya sektor pariwisata mengakibatkan penurunan pendapatan asli daerah (PAD) Demak yang diperoleh dari retribusi, kebersiahan dan parkir,” katanya, Selasa (22/12).
Ia menjelaskan, berdasarkan data statistik Dinparta, pada 2019, tercatat total PAD melebihi 2 milyar rupiah. Sedangkan PAD pada 2020 sampai November hanya mencapai 1,8 milyar rupiah.
“Penurunan PAD dari objek wisata turun drastis, meskipun terdapat penambahan destinati wisata baru, yaitu Pantai Glawah Wangi atau Istana Tambak Bulusan (Istambul) dengan PAD tertinggi mencapai 1,2 M. Tetapi hasil yang diperoleh tidak dapat menutup perolehan yang didapat seperti 2019,” ungkapnya.
Bambang menuturkan, melemahnya sektor wisata di Demak diakibatkan karena dratisnya penurunan pengunjung. Hal itu disebabkan oleh pemberlakuan berbagai pembatasan perjalanan ke objek wisata guna untuk mebendung penyebaran dan penularan Covid-19.
“Tidak hanya objek wisata umum, seperti pantai, bukit dan sebagainya yang melemah. Wisata religi yang menjadi andalan Kabupaten Demak, yaitu makam Sunan Kalijaga, Mesjid Agung Demak, Makam Raden Fatah dan sebagainya, juga menjadi sepi pengunjung,” ucapnya.
Ia mengatakan, hal tersebut tidak dapat dipungkiri karena masih dalam situasi pandemi. Menurutnya, penurunan PAD tidak masalah yang terpenting adalah kesehatan dan keselamatan masyarakat.
“Kami, Dinparta Demak, hanya berharap pandemi ini segera berakhir, agar kami dapat leluasa membuka objek wisata di Demak. Selain sudah dirindukan oleh masyarakat juga dapat menambah PAD untuk kabupaten,” katanya. (cr3/gih)










