TAMAN baca masyarakat bernama Komunitas Omah Pasinaon (Kompas) pada awalnya adalah project tugas akhir mata kuliah. Namun karena antusias anak-anak di Dusun Sendang Rejo, Desa Nyatnyono, Ungaran Barat sangat tinggi, komunitas ini eksis sejak 2018 hingga sekarang.
Awalnya, Dhanti, Ketua Kompas bersama dengan delapan rekan lainnya memutuskan untuk membuat perpustakaan mini pada project tugas akhirnya. Alasan mereka memilih Dusun Sendangrejo sebagai target karena mayoritas masyarakat di sana berprofesi sebagai buruh pabrik yang bekerja dari pagi sampai petang. Sehingga anak-anak mereka seringkali dititipkan ke tetangga atau kakek dan neneknya.
“Kami mempunyai kesadaran bahwa anak tidak hanya cukup diberi materi saja. Anak juga butuh perhatian, kasih sayang, didengarkan, serta ditemani dalam masa pertumbuhan dan tahap-tahap belajar dalam hidupnya,” katanya, belum lama ini.
Tahap awal yang Dhanti dan teman-temannya lakukan adalah dengan melakukan pendekatan kepada anak-anak di Sendangrejo melalui bermain dan belajar bersama. Atau lebih tepatnya memberikan kegiatan yang lebih menekankan pada pengembangan minat dari anak-anak itu sendiri. Salah satunya melalui pelatihan keterampilan yang ramah lingkungan, seperti membatik, ecoprint, ecobrick.
“Niat awalnya itu untuk memenuhi tugas akhir, namun ternyata antusias anak-anak sangat luar biasa. Sehingga secara tidak langsung menyalurkan energi positif kepada kami bersembilan untuk terus belajar bersama-sama dengan anak-anak,” tuturnya.
Semula kegiatan Kompas hanya berfokus di Dusun Sendangrejo saja, namun seperti namanya “Kompas” selalu bergerak menunjukkan arah. Sampai saat ini Dhanti bersama delapan temannya meski sudah lulus dan kembali ke kota masing-masing mereka masih membawa satu misi yang sama. Yakni melanjutkan Kompas di tempat masing-masing.
“Begitupun harapan kami yang pada akhirnya menuntun kami untuk belajar di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja. Dalam beberapa kesempatan Kompas juga berkerjasama dengan pemuda di berbagai daerah untuk bermain sambil belajar bersama anak-anak setempat. Salah satunya di Desa Wisata Janari, Gatran Magelang,” katanya.
Dhanti bersama delapan temannya yaitu Amina (wakil ketua), Meva (sekretaris), Emi (bendahara), Nikken (media pembelajaran), Arifah (media pembelajaran), Ari (media), Hayati (anggota), Gardika (anggota) berasal dari berbagai daerah yang kemudian dipertemukan di satu universitas terkemuka di Kota Semarang dalam Program Studi Pendidikan Luar Sekolah. Dalam pelaksanaan kegiatan Kompas mereka tidaklah bekerja sendiri. Pihaknya membuka siapapun yang mau bergabung dan tertarik dalam kegiatan komunitas ini.
“Kami membuka untuk siapa saja yang ingin bergabung dan berbagi dengan adik-adik, baik dari instansi negeri atau swasta, komunitas, ataupun perorangan,” tambahnya.
Kompas dibentuk pada September 2018 masih berupa perpustakaan mini, yang kemudian diresmikan menjadi Taman Baca Masyarakat pada Juli 2020. Kemudian dibantu Yayasan IQR Jateng dan project ini berlanjut hingga sekarang.
“Kami meyakini bahwa apa-apa yang kami dapatkan sampai detik ini tidak terlepas dari campur tangan, doa, serta pengorbanan orang lain. Sehingga kami merasa perlu untuk membagikan kembali apa yang telah kami terima dan rasakan selama ini, semampunya, sebisanya, seadanya, dan setulus-tulusnya,” ucap Dhanti. (cr3/gih)










