BANTUL, Joglo Jogja – Pada umumnya, permainan wayang menggunakan media yang dapat di gerakkan. Seperti wayang kulit dan lainya. Namun hal ini berbeda dengan wayang beber. Wayang ini tidak seperti wayang pada umumnya. Karena menggunakan media lukisan.
Wayang beber mempunyai bentuk lukisan yang memanjang dan digulung. Mempunyai panjang idealnya lima meter. Pada awalnya, untuk medianya sendiri masih menggunakan kertas dluwang. Namun sekarang ini sudah berubah, yaitu menggunakan kanvas atau blacu.
Salah satu seniman wayang beber Indra Suroinggeno mengatakan, dirinya sangat tertarik dengan lukisan wayang beber. Menurutnya, hanya lukisan wayang beber yang sejatinya bisa benar-benar menghargai sebuah lukisan.
“Lukisan wayang beber tidak hanya diceritakan saja, namun dengan seni. Berbeda dengan lukisan lain,” ujarnya, Minggu (20/2).
Untuk pementasannya, wayang ini sama seperti pada pementasan wayang kulit. Dibutuhkan gamelan, karawitan, sinden, ritual, dan do’a.
“Pementasannya membutuhkan gamelan, karawitan, ada sindennya, ada ritual, do’a-do’anya. Jadi ada seninya, seni gambar, seni suara, seni musik yang hanya digambarkan di wayang beber, ungkapnya.
Perbedaan wayang beber dengan wayang kulit terletak pada atraksinya. Atraksi wayang kulit yaitu dengan gerakannya yang menghibur. Sedangkan wayang beber mengandalkan suara untuk menarik penonton.
“Wayang kulit kan bisa atraksi gerakan untuk menghibur. Kalau ini benar-benar suara yang dibutuhkan untuk mempengaruhi penonton agar tertarik, selain dari lukisan. Karena ga bisa gerak, jadi memang dari faktor dalangnya,” jelasnya.
Permaianan wayang beber ini dengan cara menancapkan lukisan, yang memiliki panjang sekitar lima meter. Terbagi dalam lima fram. Ketika fram pertama selesai, maka akan di gulung dan dilanjutkan pada fram setelahnya. (ers/bid)










