Kudus  

‎Eks Pelatih Persipura Jayapura Dorong Lahirnya Talenta Sepak Bola Putri dari Kudus

‎Eks Pelatih Persipura Jayapura Head Coach MilkLife Soccer Challenge, Jacksen F. Tiago. (‎ADAMNAUFALDO/JOGLO JATENG). ‎

‎KUDUS, Joglo Jateng – Ajang turnamen Sepak Bola Nasional yang digelar di Kudus tidak hanya menjadi arena persaingan antartim sepak bola putri muda dari berbagai daerah, tetapi juga menjadi ruang pembinaan karakter dan pengembangan bakat atlet masa depan.

Pesan tersebut ditegaskan oleh Eks Pelatih Persipura Jayapura yang juga saat ini dipercaya menjadi Head Coach MilkLife Soccer Challenge, Jacksen F. Tiago saat memberikan arahan kepada para pelatih dan peserta sebelum kompetisi dimulai.

‎Tahun ini, turnamen berlangsung lebih meriah dengan kehadiran 12 tim dari berbagai kota di Indonesia.

Jumlah tersebut meningkat dibanding edisi sebelumnya yang hanya diikuti delapan tim.

Kehadiran peserta dari Samarinda, Banjarmasin, Malang, Bekasi, Solo, Jakarta, hingga Kudus menunjukkan semakin luasnya jangkauan pembinaan sepak bola putri yang dibangun melalui kompetisi tersebut.

Di hadapan para pelatih, Jackson Tiago menekankan bahwa tujuan utama penyelenggaraan turnamen bukan sekadar mencari juara.

Menurutnya, kompetisi harus menjadi sarana bagi para atlet muda untuk belajar, berkembang, dan menikmati proses sebagai bagian dari perjalanan mereka menuju level yang lebih tinggi.

‎“Kami ingin menciptakan lingkungan yang membuat anak-anak bisa berkarya, berkembang, dan menikmati setiap momen selama mengikuti turnamen ini,” ujarnya.

‎Ia mengingatkan para pelatih agar tidak memberikan tekanan berlebihan kepada para pemain.

Sebab, pembinaan usia muda membutuhkan pendekatan yang lebih menekankan pada proses, pengalaman, dan pembentukan mental bertanding.

“Dari 12 tim yang bertanding, hanya satu yang akan menjadi juara. Namun 11 tim lainnya juga harus pulang dengan pengalaman berharga. Tugas pelatih adalah membantu mereka berkembang dan mengeluarkan kemampuan terbaiknya,” katanya.

‎Jackson bahkan menyebut kompetisi ini sebagai salah satu langkah awal untuk menemukan calon pemain masa depan Indonesia. Ia berharap para peserta dapat terus berkembang hingga suatu saat mengenakan seragam tim nasional.

‎“Mudah-mudahan beberapa tahun ke depan kita bisa melihat mereka mengenakan lambang Garuda di dada,” tambahnya.

‎Jackson Tiago berharap sepak bola putri Indonesia terus berkembang dan mendapat ruang pembinaan yang lebih luas. Baginya, kemenangan hanyalah bagian kecil dari proses panjang mencetak atlet berkualitas.

Yang terpenting adalah lahirnya generasi pemain muda yang berkarakter, percaya diri, dan siap mengharumkan nama Indonesia di masa mendatang.

‎“Selamat bertanding dan berani mencetak gol. Nikmati prosesnya, karena masa depan sepak bola putri Indonesia ada di tangan kalian,” tukasnya.

Sebagai tuan rumah, Kudus kembali menjadi pusat perhatian. Tim All Star Kudus datang dengan status juara bertahan setelah sukses meraih gelar pada edisi sebelumnya.

Pelatih Kudus, Yayan Hidayat, mengakui persaingan tahun ini jauh lebih berat karena kualitas peserta semakin merata.

‎Meski demikian, ia optimistis timnya mampu tampil maksimal di hadapan pendukung sendiri. Menurutnya, keberhasilan tahun lalu merupakan hasil kerja keras dan persiapan matang para pemain.

‎“Mempertahankan gelar memang lebih sulit daripada merebutnya. Namun anak-anak sudah menunjukkan tekad dan semangat yang luar biasa untuk kembali bersaing,” ujarnya.

‎Selain Kudus, tim Solo juga menjadi salah satu kandidat kuat. Pelatih Solo, Maisus Nita, mengungkapkan bahwa pengalaman menjadi runner-up musim lalu menjadi motivasi untuk tampil lebih baik.

Ia menekankan pentingnya pendekatan personal kepada para pemain agar mampu membangun mental juang yang kuat.