Kudus  

Puskesmas Jekulo Kudus Gencarkan Pelacakan untuk Putus Stigma TBC

PEMERIKSAAN: Pegawai Puskesmas Jekulo melayani pemeriksaan tensi pasien sebelum diperiksa ke poli, Rabu (17/6/2026). (FAJAR ARI WIBOWO/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Pelayanan kesehatan primer terus berbenah demi memberikan jaminan layanan holistik bagi masyarakat. Salah satu komitmen kuat ditunjukkan oleh Puskesmas Jekulo, Kabupaten Kudus.

Di bawah kepemimpinan drg. Sita Ardianti, puskesmas ini gencar mengawal 12 Indikator Utama Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan. Melalui pemantauan ketat bulanan dalam forum Lokakarya Mini (Lokmin) internal, Puskesmas Jekulo berupaya memastikan seluruh target tahunan dapat terpenuhi secara konsisten.

Capaian indikator seperti penurunan stunting, imunisasi lengkap, dan pelayanan suspect penyakit menular terpantau baik. Akan tetapi, tantangan terbesar yang dihadapi oleh seluruh pelaksana kesehatan saat ini adalah pemenuhan target penemuan kasus aktif Tuberkulosis (TBC).

drg. Sita mengakui adanya jurang pemisah atau gap antara pencapaian target terduga TBC dengan penemuan riil kasus positif di lapangan. Tantangan terbesar itulah yang belum tercapai penemuannya.

“TB itu kan indikatornya banyak. Tapi penemuannya itu kurang. Semua sama puskesmas itu penemuan TB yang jadi masalahnya,” ujarnya.

Secara nasional, Indonesia ditargetkan bebas dari TBC pada 2030 sejalan dengan target global Ending TB Strategy. Namun, tingginya target penemuan kasus baru sering kali menjadi kendala di tingkat puskesmas.

Guna mendongkrak penemuan kasus aktif, Puskesmas Jekulo membangun kolaborasi lintas sektor yang progresif. Salah satunya menggandeng jajaran kepolisian melalui Bhabinkamtibmas untuk membantu pelacakan kasus di lapangan.

Berkat sinergi ini, investigasi kontak erat dapat dijalankan secara masif. Ketika ditemukan satu kasus positif, tim akan menyisir dan memeriksa lingkungan sekitarnya.

Saat ini, tercatat ada sekitar 21 hingga 22 pasien positif TBC yang sedang dalam penanganan khusus.

Hambatan psikososial di tengah masyarakat masih menjadi batu sandungan utama. Banyak warga yang mengalami batuk persisten lebih dari dua minggu enggan memeriksakan diri karena takut dikucilkan oleh lingkungan sekitar akibat stigma negatif TBC.

Menanggapi ketakutan tersebut, Sita Ardianti mengimbau masyarakat untuk tidak panik. Sebab, penanganan TBC sepenuhnya ditanggung oleh program pemerintah dan obat-obatan telah tersedia gratis di puskesmas.

“Jangan khawatir, sudah ada obatnya. Jadi kalau sudah minum obat dua bulan sudah gak nular lagi. Jadi jangan takut dengan itu,” tegasnya.

Ke depan, koordinasi rutin bertajuk Lokmin lintas sektor yang digelar setiap tiga bulan sekali bersama camat, tokoh agama, kepala desa, dan instansi pendidikan akan terus dioptimalkan. Pertemuan ini untuk menyamakan persepsi, mengevaluasi capaian, dan menyusun kesepakatan bersama guna mengedukasi serta mendatangi pasien-pasien yang sempat menolak pengobatan. (cr1/fat/rds)