KUDUS, Joglo Jateng – Mengubah kesadaran kesehatan masyarakat tidak bisa terjadi dalam semalam. Menyadari tantangan tersebut, Puskesmas Dawe melakukan pendekatan berbasis siklus hidup melalui Posyandu.
Pendekatan ini dapat melayani seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari bayi hingga lansia, sekaligus menegaskan bahwa fasilitas kesehatan ini adalah milik bersama.
Langkah mengedukasi masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Dawe diakui memiliki tantangan yang besar. Karakteristik warga yang variatif menuntut puskesmas untuk lebih adaptif, sabar, dan pandai membaca situasi dalam menyampaikan program-program kesehatan.
Kepala Puskesmas Dawe, drg. Yuskal Yusrizal, melalui Nutrisionis Puskesmas Dawe, Nur Sahal, mengungkapkan tantangan nyata di lapangan. Tingkat pendidikan, karakter, dan emosional setiap lapisan masyarakat yang berbeda-beda sangat berpengaruh terhadap kesadaran akan kesehatan.
“Akhirnya kita juga sepandai mungkin bisa mengikuti masyarakat. Apa yang masyarakat itu harapkan tentunya itu yang harus kita lakukan. Jadi walaupun kita ada regulasi yang mengacu dan tentunya juga untuk harapan-harapan itu harus kita perhatikan, kita penuhi juga,” terangnya.
Sebagai langkah konkret, Puskesmas Dawe mengoptimalkan peran Posyandu yang kini diintegrasikan dengan enam Standar Pelayanan Minimal (SPM), serta berfungsi sebagai Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD).
Puskesmas Dawe bergerak aktif sebagai pembina teknis untuk memastikan pelayanan berjalan maksimal di tingkat desa melalui beberapa langkah taktis. Di antaranya adalah pembinaan kader untuk meningkatkan keterampilan, kapasitas, serta memantau strata kader secara berkala dalam memberikan pelayanan.
Tak hanya itu, edukasi berkelanjutan juga menjadi sarana menyampaikan informasi dan manfaat pelayanan kesehatan secara konsisten kepada warga. Puskesmas bekerja sama dengan pemerintah desa untuk menggerakkan partisipasi aktif masyarakat juga dinilai tak kalah penting.
“Kerja sama dengan pihak pemerintah desa juga supaya menggugah masyarakat untuk ikut dalam Posyandu. Karena di Posyandu sekarang kan siklus hidup ya, mulai 0 sampai lansia itu sasarannya,” sambungnya.
Keberhasilan pelayanan kesehatan ini bertumpu pada kesadaran warga itu sendiri. Pihak puskesmas rutin menggembar-gemborkan manfaat nyata Posyandu ke tengah masyarakat agar warga antusias dan tidak lagi merasa asing dengan fasilitas kesehatan terdekat mereka.
Monitoring langsung ke lapangan pun terus dilakukan untuk menjaga kualitas pelayanan, mulai dari kesiapan teknis hingga performa para kader di desa. Di akhir penjelasannya, Nur Sahal mengajak seluruh elemen warga untuk menumbuhkan rasa memiliki yang kuat terhadap Posyandu. (cr1/fat/rds)










