KUDUS, Joglo Jateng – Suasana di Gedung Wijoyo Kusumo, Desa Karangbener, tampak sibuk sejak pukul 09.00 WIB pada Selasa (9/6/2026). Ratusan warga mengantre untuk menerima penyaluran program bantuan pangan dari Pemerintah Pusat. Bagi masyarakat setempat, bantuan ini bukan sekadar paket sembako biasa, melainkan jaring pengaman yang amat berharga di tengah situasi ekonomi yang fluktuatif.
Dalam penyaluran kali ini, setiap Keluarga Penerima Manfaat (KPM) membawa paket pangan pokok berupa beras 20 kilogram dan minyak goreng 4 liter. Stimulus ini dirancang khusus oleh pemerintah untuk menjaga stabilitas ketahanan pangan tingkat rumah tangga. Sekaligus menekan dampak inflasi harga barang pokok di pasaran.
Kepala Desa Karangbener, Arifin menjelaskan, skema penyaluran bantuan dari Pemerintah Pusat ini mengalami penyesuaian. Jika pada tahun lalu warga bisa menerima bantuan serupa sebanyak dua kali dalam setahun, untuk periode 2026 ini baru memasuki tahap penyaluran yang pertama.
Terdapat penyesuaian berkala dari Pemerintah Pusat terkait distribusi nasional. Akan tetapi, bantuan ini dirasa tepat momentumnya untuk menjaga pasokan pangan menjelang paruh kedua tahun ini.
Guna menghindari ketimpangan sosial dan memastikan bantuan jatuh ke tangan yang tepat, Pemdes Karangbener menerapkan pengawasan ketat. Seluruh daftar penerima manfaat murni mengacu pada Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) yang dikelola oleh Kementerian Sosial.
Prioritas utama disasarkan kepada warga yang masuk ke dalam kategori Desil 1 hingga Desil 4. Yaitu kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah yang umumnya tidak memiliki penghasilan tetap atau sangat rentan secara ekonomi.
“Untuk penerima manfaat bantuan pangan ini sekitar 600-an KK. Kalau lebih ya di bawah 700,” sambungnya.
Sementara itu, Arifin mengajak warga, khususnya yang berada di usia produktif, untuk mulai membangun ketahanan ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan. Salah satu program yang terus digenjot oleh desa saat ini adalah penguatan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Melalui pelatihan keterampilan, akses modal, dan fasilitasi pasar UMKM desa, diharapkan taraf hidup masyarakat Karangbener dapat meningkat secara bertahap. Sehingga mereka tidak lagi bergantung sepenuhnya pada program bantuan sosial di masa depan.
Sisi humanis dari program ini tercermin jelas pada raut wajah Jasri (69), salah seorang warga Karangbener yang tinggal di wilayah RT 03/RW 05. Di usia senjanya, Jasri memikul tanggung jawab besar untuk menghidupi istri serta cucunya.
Langkah kakinya kini tak lagi sekuat dulu, dan tenaganya tidak lagi dilirik oleh para pemilik lahan pertanian. Alhasil, ia kini kehilangan sumber penghasilan tetap. Bantuan pangan yang diterimanya menjadi penyambung hidup bagi dapur keluarganya.
“Seneng, saget (bisa, Red) membantu kebutuhan pokok sehari-hari,” ujarnya tersenyum bahagia.
Dengan mata berkaca-kaca, pria lansia ini menceritakan bagaimana realita kehidupan yang harus dihadapinya sehari-hari karena faktor usia.
“Sekarang sudah tua mas, jadi saya sudah tidak disuruh bekerja lagi di sawah. Sekarang butuh pekerja yang muda-muda,” lanjutnya.
Dia tidak menampik bahwa dampak dari bantuan pangan ini sangat masif dalam meringankan beban pengeluaran domestik warga kurang mampu secara instan. Namun, pihak pemerintah desa juga sadar bahwa bantuan stimulan seperti ini bersifat jangka pendek. Sebagai langkah strategis jangka panjang, Pemerintah Desa Karangbener terus aktif mendampingi masyarakat untuk keluar dari zona rentan kemiskinan. (cr1/fat/rds)










