KUDUS, Joglo Jateng – Permintaan benih ikan dari UPTD Balai Benih Ikan (BBI) Hadipolo, Kabupaten Kudus terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, tingginya kebutuhan pasar tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan kondisi infrastruktur balai benih yang memadai. Sejumlah fasilitas penunjang produksi kini mulai mengalami kerusakan dan membutuhkan revitalisasi.
Kepala UPTD BBI Hadipolo Kudus, Aji Sutrisno mengatakan, benih ikan produksi BBI Hadipolo masih menjadi pilihan utama para pembudidaya ikan, baik dari Kudus maupun luar daerah. Pembeli bahkan rela menunggu stok benih tersedia karena sudah percaya terhadap kualitas hasil pembenihan dari balai milik pemerintah daerah tersebut.
“Permintaan cukup tinggi. Pembeli tidak hanya dari Kudus, tetapi juga dari Demak, Grobogan, sampai Boyolali,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa para pelanggan sudah sangat percaya dengan kualitas benih yang dihasilkan oleh pihak balai benih.
Menurut Aji, kualitas benih ikan lele dan nila dari BBI Hadipolo terjaga karena proses produksi dilakukan sesuai standar pembenihan yang baik. Selain itu, pihak balai juga telah mengantongi sertifikasi Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB).
Kepercayaan masyarakat itu membuat produksi benih terus berjalan sepanjang tahun. Dalam satu tahun, BBI Hadipolo mampu menjalankan tiga siklus produksi dengan hasil panen rata-rata mencapai sekitar 13 ribu ekor benih ikan per siklus.
UPTD BBI Hadipolo sendiri memiliki area seluas sekitar satu hektare dengan total 48 kolam. Area itu digunakan untuk proses pemijahan, pendederan, hingga pemberokan sebelum benih dipasarkan kepada konsumen.
Meski demikian, tingginya aktivitas produksi belum didukung kondisi sarana dan prasarana yang optimal. Aji mengungkapkan, sebagian fasilitas di kawasan balai benih mulai mengalami kerusakan akibat usia pemakaian dan minimnya anggaran perawatan.
“Anggaran yang tersedia sebagian besar hanya cukup untuk kebutuhan operasional seperti pakan, plastik pengemasan, dan oksigen,” katanya.
Ia menyebutkan bahwa alokasi anggaran untuk perawatan fasilitas pendukung hingga saat ini masih sangat terbatas.
Ia menjelaskan, sejumlah saluran air di area kolam sering mengalami penyumbatan sehingga harus dibersihkan secara rutin. Selain itu, mesin air yang digunakan untuk menunjang sirkulasi kolam juga beberapa kali mengalami kerusakan.
Tidak hanya itu, beberapa bangunan penunjang di kawasan balai benih juga mulai mengalami penurunan kondisi. Bahkan, pagar tembok di area BBI Hadipolo dilaporkan sempat ambrol pada September 2025 lalu.
Aji berharap ada dukungan revitalisasi fasilitas agar kualitas produksi benih ikan tetap terjaga di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat. Menurutnya, keberadaan balai benih daerah memiliki peran penting dalam mendukung sektor perikanan budidaya di Kabupaten Kudus maupun wilayah sekitarnya.
“Yang terpenting bagi kami kualitas benih tetap terjaga. Kalau kondisi ikan belum sehat, pengiriman pasti kami tunda dulu sampai benar-benar siap,” pungkasnya. (adm/fat/rds)










