KUDUS, Joglo Jateng – Pelayanan kesehatan yang inklusif dan responsif terus digalakkan oleh jajaran Puskesmas Ngembal Kulon, Kabupaten Kudus. Salah satu komitmen nyata ditunjukkan melalui program jemput bola bagi pasien kurang mampu, serta pemaksimalan program jaminan kesehatan untuk memastikan seluruh lapisan masyarakat terlayani dengan baik.
Kepala Puskesmas Ngembal Kulon, Suroso, S.Kep., Ners., mengatakan, komitmen pelayanan puskesmas ini dibuktikan melalui penanganan cepat terhadap seorang warga bernama Sutikno. Ia merupakan warga Loram Wetan yang hidup sebatang kara bersama anaknya yang putus sekolah.
Pasien yang mengalami kelumpuhan selama lebih dari satu dekade tersebut berhasil dievakuasi dan dirujuk ke rumah sakit. Hal itu dilakukan berkat sinergi antara puskesmas, masyarakat, dan pemerintah daerah.
Suroso menceritakan tantangan unik yang dihadapi pihak puskesmas saat proses jemput pasien tersebut. Lantaran sopir ambulans puskesmas telah pensiun dan tenaga pengganti dari dinas terkait belum fungsional, para perawat puskesmas akhirnya turun tangan langsung menjadi sopir ambulans demi menyelamatkan warga.
“Sementara kita diminta untuk memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat dengan tenaga perawat sendiri untuk menjemput pasien,” ujarnya.
Selain aksi tanggap darurat, Puskesmas Ngembal Kulon juga fokus pada pengaktifan kepesertaan BPJS Kesehatan warga. Suroso mengimbau masyarakat untuk tidak khawatir mengenai biaya. Sebab, Kabupaten Kudus telah menyandang status Universal Coverage. Warga yang tidak masuk dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pusat akan langsung ditanggung oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemkab Kudus.
Pihak puskesmas pun telah melayangkan surat resmi ke desa-desa agar perangkat desa ikut mendorong warganya mengaktifkan kartu BPJS mereka. Langkah ini dinilai membawa dampak positif dua arah, baik bagi jaminan kesehatan masyarakat maupun bagi operasional puskesmas melalui peningkatan dana kapitasi.
“Yang BPJS-nya tidak aktif, perlu diaktifkan. Karena apa? Karena Kudus itu sudah termasuk Universal Coverage. Jadi semua itu sudah ditanggung oleh Pemkab Kudus,” tegasnya.
Tidak hanya unggul dalam pelayanan sosial, puskesmas ini juga menorehkan segudang prestasi di tingkat kabupaten hingga provinsi. Beberapa di antaranya adalah kemenangan dalam Lomba Posyandu dan Lomba Kader yang diikuti oleh 19 posyandu di wilayah tersebut.
Suroso mengaku selalu menanamkan mental juara kepada seluruh staf dan kader kesehatan. Hal itu dilakukannya berdasarkan pengalaman pribadinya yang pernah meraih penghargaan tenaga medis teladan tingkat provinsi.
“Saya semangati. Saya pernah jadi paramedis tingkat provinsi. Jadi dengan bekal pengalaman saya itu menjadikan mental-mental juara. Jadi mental juara itu perlu saya kira,” tuturnya optimistis.
Suroso memastikan, pelayanan dasar di puskesmas, termasuk ketersediaan obat-obatan esensial dan generik untuk penyakit yang sering muncul seperti ISPA dan myalgia, berada dalam kondisi aman dan tercukupi. Pihak puskesmas secara mandiri akan mengupayakan pengadaan obat jika terdapat kekosongan sistem dropping dari Dinas Kesehatan.
“Ini obat itu kan dropping. Yang tidak ada kita mengupayakan sendiri. Jadi tidak sampai obat-obat itu tidak cukup,” pungkasnya. (cr1/fat/rds)










