Model Pendidikan Karakter di Sekolah

Oleh:  Choerul Rozak, S.Pd, M.Pd
Guru PAI dan BP SMAN 1 Demak

KARAKTER  merupakan   salah satu aspek   penting dari  kualitas  SDM,  karena kualitas karakter sebuah bangsa sangat menentukan kemajuan suatu bangsa. Karakter  yang  berkualitas  perlu  dibentuk dan  dibina  sejak  usia  dini.

Pendidikan formal di sekolah cukup punya pengaruh dalam pembentukan karakter. Saat ini, lingkungan dan kehidupan modern yang serba digital yang berkembang  secara masif membuat orangtua dan guru harus lebih waspada terhadap hal-hal negatif yang bisa merasuki pikiran anak. Agar anak-anak penerus generasi menjadi anak yang  baik, sholeh dan berhasil dalam kehidupan masyarakat bukan hanya dibutuhkan kepandaian dan ilmu yang tinggi, tetapi juga harus diimbangi  dengan proses pembentukan karakter.

Situasi sosial saat ini, dan kultur masyarakat akhir-akhir ini memang sangat  mengkhawatirkan. Ada  berbagai  macam  peristiwa yang semakin merendahkan harkat dan derajat manusia. Hancurnya nilai-nilai moral, merebaknya ketidakadilan, tipisnya rasa solidaritas, bahkan sampai adanya radikalisme serta intoleran, yang lebih naif lagi itu terjadi dalam lembaga pendidikan.

Pendidikan  karakter  menjadi  semakin mendesak untuk diterapkan dalam lembaga pendidikan dalam semua jenjang pendidikan. Kita mengingat berbagai macam perilaku yang non-edukatif kini telah menyerembah dalam lembaga pendidikan kita, seperti fenomena kekerasan, pelecehan seksual, dan kesewenang-wenangan yang terjadi di kalangan  sekolah. Gencarnya arus global tanpa disertai adanya filter dari masyarakat Indonesia,  mengakibatkan rakyat  mudah  terbawa  arus  kebebasan  dan individualisme, yang  berdampak  langsung terhadap  menurunnya  kualitas  moral  bangsa.

Karakter  yang  terbentuk  negatif  membutuhkan  waktu  lebih  kurang  10-20  tahun. Bagaimana  kita  mengubah  karakter  negatif ke  karakter  positif?  Hal  ini  memerlukan waktu  juga lebih  kurang  10-20  tahun  kemudian, untuk mengubah karakter yang sudah terpatri dalam diri manusia membutuhkan waktu yang  tidak  sebentar,  terkadang  gagal  dan bukan  pekerjaan  mudah,  karena  karakter terbentuk  dari  akumulasi  sikap  yang  biasa dilakukan.

Sekolah menjadi sebuah  lembaga  yang  sangat  efektif  dalam pengembangan pendidikan karakter (akhlak) peserta  didik.  Di  sekolah sendiri,  model-model pembinaan pembelajaran yang diorientasikan pada pembentukan karakter mestinya bersifat holistik,  tidak hanya mengembangkan kemampuan kognitif, akan tetapi aspek afektif dan psikomotorik siswa terasah dengan terus menerus dan optimal.

Pendidikan  karakter  membutuhkan proses  atau  tahapan  secara  sistematis  dan gradual, sesuai dengan fase pertumbuhan dan perkembangan anak didik. Karakter dikembangkan melalui tahap pengetahuan (knowing), pelaksanaan (acting),  dan  kebiasaan (habit). Jadi karakter itu tidak terbatas pada pengetahuan saja, seseorang yang memiliki pengetahuan  tentang  kebaikan  belum  tentu mampu bertindak sesuai dengan yang diketahuinya,  jika  tidak  terlatih  (habit)  untuk melakukan   kebaikan   tersebut.   Demikian halnya  dengan  karakter,  yang  menjangkau wilayah  emosi  dan  kebiasaan  diri.  Dengan demikian, menurut Lickona diperlukan tiga komponen karakter  yang  baik, yaitu moral knowing, moral feelings, dan moral actions. Hal  ini  diperlukan  agar  anak  didik  betul-betul mengetahui, merasakan dan mengerjakan sekaligus nilai-nilai kebajikan (Endang Soemantri, 2010).

Berdasarkan fakta empiris penulis di Lembaga Pendidikan tempat bekerja ada beberapa pembiasan Pendidikan karakter yang bisa dijadikan alternatif referensi. Pertama, adanya kegiatan pengibaran dan penurunan bendera merah putih di lingkungan sekolah yang dilakukan oleh peserta didik. Pengibaran maupun penurunan yang melibatkan peran serta peserta didik sangat efektif menanamkan karakter nasionalisme dan cinta tanah air.

Kedua, pembacaan asmaul husna sebelum kegiatan proses belajar mengajar, untuk teknisnya bisa secara kolektif masing-masing kelas ataupun tersentral dari sekolah, anak tinggal menirukan secara bersama-sama. Ini hemat penulis juga cukup bisa masuk dalam hati sanubari siswa, terlepas belum memahami arti yang ada dalam asmaul husna secara utuh. Minimal bisa cepat hafalnya, dan ini sangat membantu pembentukan karakter religi. Ketiga, adanya program kegiatan sholat dhuha serta sholat dzuhur berjamaah, program ini pun cukup bisa melatih pembiasan kewajiban yang perlu dilakukan kepada Allah SWT sebagai manusia (Hablum Minallah). (*)