BANTUL, Joglo Jogja – Capaian vaksinasi booster di Kabupaten Bantul masih tergolong rendah. Sehingga, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul membentuk mandatori khusus atau kebijakan khusus untuk mengejar ketertinggalannya. Yakni mengenai keperluan yang berkaitan dengan dokumen pemerintah.
Wakil Bupati Bantul, Joko Purnomo menjelaskan, penyebab capaian vaksinasi booster masih rendah, karena narasi yang diterima masyarakat hanya cukup dengan vaksin dosis kedua. Sehingga dosis ketiga atau booster menurut masyarakat hanyalah penyempurna.
Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 ini mengatakan, mandatori khusus ini dilakukan agar masyarakat mau melakukan vaksinasi booster. Sehingga keperluan yang berkaitan dengan pemerintah, seperti dokumen kependudukan dan pelayanan publik lain dapat dilakukan jika masyarakat sudah melakukan vaksinasi booster.
“Mandatori ini menjadi penting, didukung pula dengan pernyataan presiden yang sudah menyampaikan bahwa untuk kegiatan publik yang besar harus disyaratkan dosis ketiga. Nantinya, pelayanan publik yang disyaratkan dengan vaksin dosis ketiga ini, diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk melakukan vaksinasi,” ujarnya, saat diwawancarai belum lama ini.
Joko pun menyampaikan, untuk mengantisipasi varian baru Covid-19 Omicron BA.4 dan BA.5 di Indonesia, pihaknya selalu melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan. Kemudian dari kementerian pusat dan elemen lainnya, pihaknya juga sudah mendapatkan pengarahan. Dimana terdapat peningkatan yang berkaitan dengan Covid-19 namun tidak terlalu signifikan.
“Karena Pak Luhut bilang ada kenaikan berkaitan dengan Covid-19 namun tidak signifikan, beliau menyampaikan untuk tetap waspada dan mematuhi protokol kesehatan. Bantul sendiri sudah PPKM Level 1, kita sudah menerapkan standar sesuai PPKM,” katanya.
Selain vaksinasi, pihaknya pun melakukan edukasi kepada masyrakat. Hal ini dibantu oleh Dinas Kesehatan Bantul dan TNI/Polri untuk melakukan edukasi kepada masyarakat. Yaitu untuk tetap waspada meskipun Bantul sudah di PPKM Level 1.
“Dosis ketiga kita itu masih kecil, baru 25 persen. Sehingga akan kita kejar terus,” jelasnya.
Sementara Kepala Dinas Kesehatan Bantul, Agus Budi Raharja mengatakan, bahwa di Kabupaten Bantul saat ini belum ada temuan kasus Covid-19 varian baru. Namun ia telah mengantisipasi apabila terjadi lonjakan, ia tetap menyiagakan rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes).
“Varian baru belum terdeteksi. Dan semoga saja ini tetap terkendali,” tegasnya. (ers/bid)










