Optimalkan Keaktifan Pembelajaran PPKN melalui Metode Buzz Group

Oleh: Muh Agus Widodo, S.Pd.SD
Guru SDN 04 Bulu, Kec. Petarukan, Kab. Pemalang

PENDIDIKAN Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di Sekolah Dasar (SD). Dengan PPKn, seseorang akan memiliki kemampuan untuk mengenal dan memahami karakter dan budaya bangsa, serta menjadikan warga negara yang siap bersaing didunia internasional tanpa meninggalkan jati diri bangsa. PPKn juga bermanfaat untuk membekali peserta didik agar memiliki kemampuan untuk mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.

Pada kenyataannya, PPKn dianggap ilmu yang sukar dan sulit dipahami. PPKn adalah pelajaran formal yang berupa sejarah masa lampau, perkembangan sosial budaya, tata cara hidup bersosial, serta peraturan kenegaraan. Begitu luasnya materi PPKn menyebabkan anak sulit untuk diajak berpikir kritis dan kreatif dalam menyikapi masalah yang berbeda.

Hal yang sama juga dialami oleh siswa SDN 04 Bulu, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang. Siswa masih merasa kesulitan, takut, dan malu bertanya tentang hal-hal yang mereka belum dipahami, serta kurang termotivasi untuk aktif dalam proses kegiatan pembelajaran. Terutama dalam kegiatan diskusi, anak masih malu dan tidak berani mengungkapkan pendapat, siswa cenderung tidak fokus, bercanda dengan teman, dan membuat kegaduhan. Siswa mengalami kesulitan bekerja sama memecahkan masalah yang berkaitan dengan materi yang diberikan oleh guru dan kurang aktif dalam proses kegiatan pembelajaran.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata aktif adalah giat (bekerja, berusaha). Rusman (2011) berpendapat bahwa pembelajaran aktif merupakan suatu bentuk pembelajaran yang lebih banyak melibatkan aktivitas siswa dalam mengakses berbagai informasi dan pengetahuan untuk dibahas dan dikaji dalam proses pembelajaran di kelas, sehingga mereka mendapatkan berbagai pengalaman yang dapat meningkatkan pemahaman dan kompetensinya. Lebih dari itu, pembelajaran aktif memungkinkan siswa mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, seperti menganalisis dan menyintesis, serta melakukan penilaian terhadap berbagai peristiwa belajar dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu metode pembelajaran yang mampu mengaktifkan anak, terutama dalam kegiatan berdiskusi. Salah satunya dengan menggunakan metode Buzz Group.

Menurut Dimyati & Moedjiono (1999) dalam Yulianda, metode Buzz Group merupakan salah satu bentuk diskusi kelompok yang beranggotakan 4-5 orang yang bertemu secara bersama-sama membicarakan suatu topik yang sebelumnya telah di bahas secara klasikal. Sedangkan menurut Arslantosum (2021) Pangaribuan dan Manik (2017), menyatakan bahwa metode Buzz Group juga dapat dilakukan pada kondisi ruangan yang berisik karena masing-masing kelompok disibukkan dengan aktivitas diskusi yang aktif antar sesamanya.

Langkah-langkah metode pembelajaran Buzz Group adalah sebagai berikut : 1) guru menjelaskan sekilas tentang materi yang diajarkan; 2) guru membagi beberapa anggota dalam forum kecil yang terdiri dari 3-5 orang; 3) setelah masing-masing kelompok sudah terbentuk, tiap kelompok mengerjakan pemberian tugas, terhadap yang berprofesi seperti pemimpin forum, penulis atau pencatat dan mencari bahan bacaan ataupun informasi 4) tiap forum ditugasi membincangkan materi dari aspek pemikiran tertentu; 5) anggota dari setiap kelompok juga harus mencari info dari kelompok lain dan saling bertukar informasi; 6) menentukan waktu yang digunakan untuk pembahasan; 7) selesai pembahasan dalam kelompok, setiap kelompok diberi giliran menyampaikan hasilnya yang diatur oleh pimpinan universal; 8) pencatat universal mencatat serta membuat kesimpulan dari masing-masing kelompok.

Kelebihan metode pembelajaran Buzz Group antara lain: 1) memperkuat sikap kooperatif antar kelompok; 2) pembelajaran lebih aktif; 3) mendukung peserta didik untuk mengambil keputusan; 4) adanya pertukaran siswa dan ekspresi ide; 5) mengembangkan pengetahuan baru untuk membentuk pertanyaan diskusi; 6) mengembangkan sikap menghargai pendapat orang lain yang menumbuhkan semangat belajar siswa; 7) meningkatkan kepercayaan diri siswa untuk mengungkapkan pendapatnya dalam forum diskusi; 8) menuntut sikap bertanggung jawab. Agar metode ini dapat mencapai keberhasilan, peran guru sangat penting dalam membagi anggota kelompok secara heterogen dari segi kemampuan, keaktifan, dan jenis kelamin siswa. (*)