Guru PAI dan Perkembangan Nuansa Religius di Sekolah

Oleh: Moh. Syukur, S.Pd.I
Guru PAI SD 4 Honggosoco, Korwil, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus

PADA era informasi dan globalisasi seperti sekarang ini, keberadaan seorang guru masih tetap memegang peranan penting. Peran tersebut belum dapat digantikan oleh mesin, radio, atau komputer yang paling canggih sekalipun. Sebab masih terlalu banyak unsur-unsur manusiawi dalam kepribadian guru yang tidak dapat dijangkau melalui alat-alat tersebut.

Selamat Idulfitri 2024

Pendidikan agama Islam diharapkan dapat menghasilkan manusia yang selalu berupaya menyempurnakan iman, takwa, dan akhlak. Serta aktif membangun peradaban dan keharmonisan kehidupan, khususnya dalam memajukan peradaban bangsa yang bermartabat. Manusia seperti itu diharapkan tangguh dalam menghadapi tantangan, hambatan, dan perubahan yang muncul dalam pergaulan masyarakat baik dalam lingkup lokal, nasional, regional maupun global. Guru PAI dalam konteks pengembangan kompetensi siswa sangat bersentuhan dengan materi dan kompetensi akhlak mulia.

Menurut Hadari Nawawi, seseorang dapat dikatakan sebagai pendidik yang sebenarnya, jika di dalam dirinya terkandung beberapa aspek sebagai berikut: pertama, berwibawa. Kewibawaan merupakan sikap dan penampilan yang dapat menimbulkan rasa segan dan hormat. Sehingga peserta didik merasa memperoleh pengayoman dan perlindungan. Kedua, memiliki sikap tulus ikhlas yang tampil dari hati yang rela berkorban untuk siswa. Diwarnai juga dengan kejujuran, keterbukaan dan kesabaran. Ketiga, keteladanan. Seorang guru yang baik senantiasa akan memberikan yang baik pula kepada anak didiknya.

Selain memiliki kompetensi, Mahmud Junus (1966: 114) yang dikutip oleh Ahmad Tafsir, mengungkapkan sifat-sifat Guru Pendidikan Agama Islam yang baik, yakni kasih sayang pada murid, senang memberikan nasehat dan peringatan. Selain itu melarang murid melakukan hal yang tidak baik, bijak dalam memilih bahan pelajaran yang sesuai dengan lingkungan murid. Kemudian hormat pada pelajaran lain yang bukan menjadi pegangannya. Lalu bijak dalam memilih bahan pelajaran yang sesuai dengan taraf kecerdasan murid, mementingkan berpikir dan berijtihad, jujur dalam keilmuan, serta adil.

Seorang guru dituntut tidak hanya mengajarkan ilmu agama Islam semata dalam proses pembelajaran. Tetapi juga melakukan usaha-usaha lain yang dapat mewujudkan tumbuhnya suasana religius di sekolah. Yakni terciptanya situasi keagamaan di kalangan pendidik dan anak didiknya yang tercermin dalam usaha memahami ajaran-ajaran agama.

Di samping itu budi luhur dari peserta didik, hidup sederhana dan hemat, mencintai kebersihan, dan segera menyadari dan memperbaiki kesalahan. Lebih lanjut dalam menjalankan kewenangan profesionalnya, guru dituntut untuk memiliki keanekaragaman kecakapan (competencies) yang bersifat psikologis. Yang meliputi: kompetensi kognitif (ranah cipta), kompetensi afektif (ranah rasa), dan kompetensi psikomotor (ranah karsa).

Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang berupaya untuk mentransfer, membentuk, dan menginternalisasi nilai-nilai religius mempunyai tanggung jawab dalam pembentukan akhlak mulia siswa. Kegiatan yang dapat dilakukan oleh sekolah dengan beberapa cara, yaitu: pertama, menebarkan ucapan salam. Kedua, melaksanakan shalat berjamaah di sekolah. Pembiasaan shalat berjamaah di sekolah akan menanamkan kepada anak didiknya untuk shalat berjamaah dengan tepat waktu.

Ketiga, pengajian dan baca tulis Al-Qur’an. Kegiatan ini dalam rangka mengajak anak didiknya untuk belajar membaca dan memahami Al-Qur’an. Serta berupaya menghidupkan kegiatan pengajian atau ceramah keagamaan. Keempat, Jumat berkah, yaitu pembiasaan untuk berinfak dan bersedekah di setiap hari Jumat. Hal tersebut dilakukan untuk menanamkan sikap peduli dan senang membantu kepada orang yang lebih membutuhkan.

Kelima, kegiatan silaturahmi di kalangan siswa dan guru. Pada kegiatan ini, guru berupaya untuk mengajak siswa untuk bersama-sama menjenguk siswa yang sedang sakit. Juga menjalin keakraban dengan anak didiknya dan guru yang lainnya, menaruh sikap hormat terhadap sesama, serta menyayangi anak didiknya. (*)