Basma dalam Bingkai Literasi Tumbuhkan Jiwa Qur’ani pada Siswa

Oleh: Asiyah, S.Pd.I.
Guru PAI SDN 1 Luwung, Kec. Rakit, Kab. Banjarnegara.

GERAKAN literasi sekolah terdapat dalam peraturan Kementerian Nomor 23 tahun 2015 yang berisi tentang penumbuhan budi pekerti. Salah satu kegiatannya adalah membaca sekitar 10 hingga 15 menit ketika hendak memulai pembelajaran. Gerakan literasi sangat penting karena dengan hal ini, budaya membaca dan menulis akan semakin tumbuh. Selain itu, gerakan literasi sekolah ini diharapkan juga dapat memberi motivasi kepada peserta didik yang belum bisa membaca menjadi bisa membaca, dan yang sudah lancar membaca termotivasi untuk aktif membaca, sehingga kegemaran dan minat bacanya meningkat.

Selamat Idulfitri 2024

Menurut Wiedarti (2016: 7), gerakan literasi sekolah merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah dan untuk mewujudkannya dengan pembiasaan membaca peserta didik. Diharapkan peserta didik bisa mempunyai ide, gagasan, atau pendapat yang dapat digali terkait dengan membudayakan literasi.

Literasi berbasis budaya sekolah dimaksudkan untuk membangun atmosfer sekolah dalam mendukung terbangunnya budaya literasi bagi warga sekolah. Lingkungan sekolah yang merangsang budaya literasi dibentuk dengan melibatkan seluruh warga sekolah.

Untuk menumbuhkan budaya literasi atau membaca apalagi membaca Al Quran bagi usia SD tidaklah mudah, apalagi bagi anak-anak SDN 1 Luwung, Kecamatan Rakit, Kabupaten Banjarnegara yang notabene dari masih usia Taman Kanak-kanak atau usia TK sudah asyik dengan HP android atau gadget. Tapi pihak sekolah tidaklah menyerah untuk mencari cara agar siswanya gemar membaca Al Quran. Gemar membaca Al Quran ini masuk pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas 2 pada materi pembelajaran “Asyik bisa membaca Al Quran”, pada sebaran KD 1.2 “Terbiasa membaca Al Quran dengan tartil”, pada tingkat satuan pendidikan Sekolah Dasar.

Untuk menumbuhkan budaya literasi ini, SD Negeri 1 Luwung, Kecamatan Rakit, Kabupaten Banjarnegara membuat program yang diberi nama “Basma”. Basma merupakan akronim dari Baca Jus ‘Amma. Maksudnya adalah di SD Negeri 1 Luwung setiap pagi diadakan baca Jus ‘Amma bersama-sama dari siswa kelas satu sampai kelas enam. Hal itu dilakukan agar siswa kelas satu sampai kelas enam tertarik dalam mengikuti program Basma.

Langkah-langkah pelaksanaan program Basma yaitu: 1) Guru memilih cara membaca yang mudah ditirukan siswa tentu saja tetap harus memperhatikan tajwidnya; 2) Siswa dibiarkan duduk di teras dengan santai; 3) Menggunakan sound system atau salon dan mikrofon agar semua siswa dari kelas satu sampai kelas enam dapat mendengar suara guru yang mengajarinya, sehingga bisa dengan mudah menirukannya; 4) Siswa juga dibebaskan mengelompok sesuai kenyamanan mereka.

Dengan cara di atas, siswa sangat antusias membaca Jus ‘Amma. Siswa merasa santai dan tidak tegang dalam membaca. Secara bertahap, siswa juga diberi tugas untuk membaca sendiri sesuai kemampuannya. Misalnya setelah selesai membaca satu surah, siswa kelas satu sampai kelas tiga diminta untuk membaca satu ayat atau dua ayat, sedangkan untuk kelas empat sampai kelas enam disuruh membaca satu surah.

Alhamdulillah setelah diadakan program Basma, siswa jadi giat membaca jus ‘Amma dan selalu mengerjakan PR yang berkaitan dengan surah-surah dalam Al Quran tepat waktu. Mereka juga jadi sadar betapa pentingnya membaca, apalagi membaca jus ‘Amma yang notabene merupakan surah-surah pendek yang sering ditemui di mata pelajaran pendidikan agama Islam dan budi pekerti.

Dalam tugas membaca Al Quran atau surah pendek mereka jadi sangat terbantu. Program Basma ini mampu menumbuhkan siswa jadi cinta Al Quran. Dengan adanya program Basma, siswa siswi SD Negeri 1 Luwung kecamatan Rakit kabupaten Banjarnegara jadi semangat membaca Al Quran. Bahkan bisa membuat prestasi kejuaraan dalam lomba membaca Al Quran yaitu Qiroah atau tilawah. (*)