Strategi Guru PAI dalam Menumbuhkan Karakter Religius Siswa SD

Oleh: Zaenudin, S. Ag.
Guru PAI SD N 03 Pegundan, Kec. Petarukan, Kab. Pemalang

PENDIDIKAN Agama Islam (PAI) dinilai sangat strategis untuk mewujudkan pembentukan karakter peserta didik. Nilai religius termasuk dalam salah satu diantara banyak butir nilai dalam pendidikan karakter. Karakter religius sangat dibutuhkan oleh peserta didik dalam menghadapi tantangan perubahan zaman yang mengarah pada degradasi nilai akhlak dan moral. Guru yang menjadi ujung tombak keberhasilan sebuah pembelajaran harus dapat memotivasi dan memfasilitasi pembelajaran agama diluar kelas. Yakni dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat keagamaan dan menciptakan lingkungan sekolah yang religius dan tidak terbatas oleh jam pelajaran saja.

Peran penting guru PAI dalam menumbuhkan karakter religius pada peserta didik sangat dibutuhkan dalam membentuk karakter peserta didik. Strategi yang tepat sangat dibutuhkan, yaitu dengan membiasakan berdoa sebelum dan setelah pembelajaran. Hal ini merupakan langkah dasar dalam menumbuhkan karakter religius. Ketika peserta didik sudah terbiasa berdoa sebelum dan sesudah kegiatan, mereka diharapkan mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Upaya membentuk karakter religius pada peserta didik juga dilakukan dengan membiasakan pembacaan Asmaul Husna setiap pagi sebelum pembelajaran dimulai. Pembacaan dilakukan secara rutin dengan nada akan membuat peserta didik terbiasa sehingga dapat menghafalkan Asmaul Husna dengan mudah. Hal ini sangat membantu peserta didik dalam membentuk karakter religius. Karena pembacaan Asmaul Husna sering dilakukan dalam kegiatan keagamaan di masyarakat. Sehingga tanpa disadari peserta didik sudah memiliki bekal yang dapat diterapkan dalam kehidupan di lingkungan masyarakat.

Peserta didik juga diajarkan untuk mengucapkan salam dan berjabat tangan ketika berpapasan dengan guru. Pembiasaan ini dapat diterapkan terutama pada pagi hari ketika peserta didik sampai di sekolah. Guru yang piket menyambut peserta didik di depan pintu gerbang sekolah dan membiasakan peserta didik untuk mengucapkan salam dan berjabat tangan dengan guru.

Sikap religius tersebut sangat membantu peserta didik dalam membentuk karakter yang baik dan diharapkan dapat menjadi bekal di jenjang pendidikan selanjutnya. Selain itu juga menjadi sikap yang melekat pada peserta didik untuk selalu menghormati orang yang lebih tua.

Pembiasaan yang bersifat mingguan juga menjadi program yang dibuat untuk membentuk karakter religius untuk siswa. Pada hari Jumat, siswa dibiasakan untuk infak ketika pagi hari. Belajar ikhlas sangat penting ditanamkan sejak dini. Ketika peserta didik sudah terbiasa menyisihkan uang saku untuk infak hari Jumat, maka akan mencetak sikap mudah berbagi dengan ikhlas. Karakter ini sangat penting sebagai bekal masa depan peserta didik dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam strategi menumbuhkan karakter religius, siswa juga dibiasakan untuk salat berjamaah. Pelaksanaannya dapat dilakukan ketika waktu zuhur dengan mewajibkan peserta didik dan guru berjamaah bersama di musala sekolah. Salat adalah tiang agama yang wajib dilakukan setiap muslim, sehingga harus diterapkan dan dibiasakan sejak dini pada peserta didik. Peserta didik yang sudah terbiasa melakukan salat berjamaah pastinya akan membekali mereka untuk selalu melaksanakan kewajiban tersebut dimanapun mereka berada.

Ketika peserta didik sudah terbiasa dengan kegiatan-kegiatan religius di sekolah dasar, maka akan terbiasa dan menjadi sikap dan karakter. Hal tersebut nantinya sangat berguna sebagai bekal dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. (*)