Pendidikan Al-Qur’an dalam Pembelajaran Kreatif PAI Discovery Learning

Oleh: Junaenah, S.Pd.I.
Guru PAI SD Negeri 01 Ketapang , Kec. Ulujami Kab. Pemalang

PENGGUNAAN metode pembelajaran yang student oriented bermodus discovery yaitu siswa berperan dengan kadar keaktifan yang tinggi mulai dikembangkan. Yakni dengan mengaplikasikan metode discovery learning dalam pembelajaran di kelas. Metode tersebut memiliki kelebihan yang menekankan pentingnya keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif.

Pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (PABP) pada khusunya pada jenjang pendidikan sekolah dasar, terdapat materi membaca Al-Qur’an. Dalam metode ini, bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir. Siswa dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi, membandingkan, mengkategorikan, menganalisis. Kemudian mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan, serta membuat kesimpulan-kesimpulan.

Syaiful Sagala (2006) menyatakan, pendekatan discovery learning dalam pembelajaran dapat lebih membiasakan anak untuk membuktikan sesuatu mengenai materi pelajaran yang dipelajari. Pada kenyataannya, proses pembelajaran pendidikan agama Islam yang tidak bermodus discovery, kerap kali bersifat seadanya, rutinitas, formalis, kering, dan kurang bermakna.

Berikut adalah langkah-langkah dalam mengaplikasikan model discovery learning di kelas, sesuai dengan buku panduan model-model pembelajaran yang diterbitkan oleh pemerintah. Langkah persiapan bagi guru untuk metode discovery learning dilakukan dengan menentukan tujuan pembelajaran. Kemudian Melakukan identifikasi karakteristik siswa, yakni kemampuan awal, minat, gaya belajar, dan sebagainya.

Setelah itu, memilih materi pelajaran, menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif dari contoh-contoh generalisasi. Selanjutnya, mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa. Lalu, mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke simbolik. Sedangkan yang terakhir adalah melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.

Pada mulanya, teori-teori belajar modern melandasi model pembelajaran dikembangkan oleh para ahli psikologi. Diantara teori belajar tersebut adalah teori belajar konstruktivisme. Guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada peserta didik, tetapi juga memberikan kesempatan peserta didik untuk menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri dan membangun sendiri pengetahuannya.   Discovery learning adalah teori belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila peserta didik tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya. Tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri.

Pada saat proses mengamati, guru harus menampilkan beberapa video/gambar yang terkait dengan contoh bacaan Al-Qur’an. Dilanjutkan dengan membuka sesi tanya jawab untuk mengetahui ketelitian peserta didik dalam memahami tayangan atau tampilan yang telah diamati. Berikutnya tugas peserta didik adalah mendiskusikan materi untuk mencapai indikator dari kompetensi dasar pengetahuan.

Pada langkah mengeksplorasi dan eksperimen inilah discovery berjalan. Yaitu dengan memberi tugas peserta didik untuk menentukan hukum tajwid yang ada pada bacaan dan mengetahui cara membacanya. Pendidik bisa memberi bimbingan atau tuntunan buku apa saja yang bisa dibaca dan didiskusikan yang terdapat isi tentang bacaan Al-Qur’an yang benar.

Di sinilah model discovery yang dimaksud, dimana peserta didik diberi stimulus. Secara berkelompok, siswa menemukan sendiri apa yang menjadi bahan diskusi, dan pada akhirnya peserta didik menyimpulkan sendiri temuannya. Kemudian disajikan di depan kelas. Adapun kelebihan strategi discovery learning antara lain pertama, dalam penyampaian bahan. Strategi discovery menggunakan kegiatan dan pengalaman-pengalaman langsung dan konkrit. Kegiatan dan pengalaman yang demikian lebih menarik perhatian peserta didik, dan memungkinkan pembentukan konsep yang mempunyai makna.

Kedua, strategi belajar mengajar discovery lebih realitas dan punya makna. Ketiga, menjadi suatu model pemecahan masalah. Keempat, transfer tidak dinantikan sampai kegiatan lain, tetapi langsung dilakukan. Sebab strategi ini berisi sejumlah transfer. Kelima, banyak memberikan kesempatan bagi keterlibatan peserta didik dalam situasi belajar. (*)