Leptospirosis Akibatkan Enam Warga Bantul Meninggal

Kepala Seksi P2P Dinkes Bantul dr. Abednego Dani Nugroho. (RIZKY ADRI KURNIADHANI/JOGLO JOGJA)

BANTUL, Joglo Jogja – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul mencatat ada sekitar 41 kasus Leptospirosis di tahun 2023. Dari data tersebut, enam di antaranya meninggal dunia.

Adapun kasus yang ada di antaranya Bambanglipuro empat kasus, Bantul enam kasus, Imogiri satu kasus, Jetis tiga kasus, Kasihan 11 kasus, Kretek satu kasus, Pandak enam kasus, Pleret Pundong Sanden masing-masing satu kasus, dan Sewon empat kasus.

Kepala Seksi P2P Dinkes Bantul dr. Abednego Dani Nugroho menjelaskan, Leptospirosis adalah penyakit yang penyebarannya melalui perantara hewan. Leptospirosis sendiri tidak dapat menularkan dari manusia satu sama lain karena harus ada perantara hewan.

“Untuk Leptospirosis ini disebabkan oleh bakteri yang disebut leptospira, bakteri ini bisa menginfeksi seseorang melalui binatang, yang biasanya dilakukan binatang pengerat seperti tikus, kelinci dan lainnya,” ungkapnya.

Gejala dari penyakit Leptospirosis antara lain demam, badan lemah, letih, lesu, pusing dan ada gejala khusus yaitu nyeri betis. Walaupun masa inkubasi Leptospirosis cukup lambat yaitu 7 sampai 14 hari.

“Kunci dari penyakit Leptospirosis ini ada di awal. Jika diagnosisnya cepat dan tepat, maka penyakit ini akan dengan mudah disembuhkan. Namun jika terlambat, maka akan parah untuk selanjutnya,” imbuhnya. (cr4/abd)