YOGYAKARTA terkenal dengan makanan-makanan yang yang membuat banyak orang jatuh cinta dan terus teringat dengan Yogyakarta, seperti halnya Es Buah dan Bakso PK. Perpaduan menu bakso dengan kuah yang gurih disandingkan dengan es buah berbalut manisnya sirup khas racikan sendiri, menjadi hidangan yang sangat menggugah selera.
Pemilik Bakso dan Es Buah PK Hadi menceritakan, usahanya sudah dirintisnya sejak tahun 1976, dengan ikut orang berjualan untuk mengumpulkan modal. Hingga akhirnya ia bisa berjualan sendiri dan menetap di trotoar jalan di Jalan Pakuningratan pada tahun 1980.
Sedangkan saat itu untuk komposisi bahan, ia juga belum menemukan pakem yang pas di tahun-tahun awal berjualan. Perlu proses yang cukup lama sampai akhirnya, ia menemukan racikan es buah yang tepat dan bikin pelanggannya kangen, dan kembali datang.
“Es buah yang sekarang ini baru ada setelah banyak evaluasi resep. Saya lihat dulu, biasanya apa yang disisakan pelanggan dari mangkoknya. Misal sering ada nanas yang sisa, ya itu yang saya buang,” terangnya.
Hadi menambahkan, untuk nama PK sendiri muncul dari julukan para pelanggan yang kebanyakan anak muda. Ia awalnya mengaku bingung, kenapa diberi julukan begitu. Sampai akhirnya ada seorang pelanggan yang menjelaskan.
“Akhirnya ada yang menjelaskan kalau PK itu ya singkatan nama Jalan Pakuningratan, tempat saya biasa mangkal,” ujarnya.

Dulu pelanggannya banyak dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Seingat Hadi, sekitar Pakuningratan dulu banyak kos-kosan. Sejak menetap di Jalan Pakuningratan, dagangan Hadi sudah punya banyak pelangan yang loyal. Tidak peduli musim, setiap hari tempat ini dipadati orang yang menikmati seporsi es buah.
Menurut ayah dua orang anak itu, rahasia yang membuat es buahnya digemari terletak di sirupnya. Sirup itu bukan produk kemasan melainkan racikannya sendiri. Hasilnya, ia bisa membuat cita rasa yang tidak membuat tenggorokan gatal dan terasa asam tapi segar. “Kalau es ini kuncinya di sirup,” tegasnya.
Menurutnya, banyak pelanggan yang kangen dengan cita rasa sirupnya. Bahkan ada sebagian pelanggan yang sudah pindah ke luar kota lalu membeli sirup di sini untuk dibuat es buah sendiri di rumahnya nanti. “Banyak pelanggan lama kalau ke Jogja mampir ke sini. Lalu beli sirupnya saja,” ujarnya.
Hadi juga tidak kompromi soal kualitas buah. lantaran dirinya memilih buah yang terbaik karena dapat memberikan rasa yang manis serta cita rasa yang nikmat.
“Kalau nangka harus manisnya pas. Sedangkan sawonya harus yang tua. Kalau pas dicoba kurang pas ya tidak kita sajikan untuk pelanggan,” jelasnya.
Selain menyediakan es buah, di sini juga ada bakso. Untuk menyeimbangkan antara dinginnya es buah dan hangat di bakso. Supaya pembeli tidak bosan dan bisa menikmati makanan lain di sini
“Kalau musim hujan begini sebenarnya banyak orang yang lebih ingin beli bakso saja. Tapi nanti tertarik beli es juga. Jadi bakso pasti tambah laris namun es-nya tetap laku,” tuturnya.
Hadi berhasil menemukan pendamping yang pas untuk es buah. Setelah usahanya berkembang dan membuka cabang, ia pun mengaplikasikan hal serupa. Cabang kedua dibuka di Jalan Kyai Mojo, dan cabang ketiga ada di Jalan Godean, yang buka setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 18.00 “Bahkan yang di Godean saya tambahin menu soto. Ternyata tetap laris juga,” tambahnya.
Ia menuturkan, dari hasil jualan bakso ini dirinya bahakan bisa menjadikan kedua anaknya sarjana di Universitas Gajah Mada (UGM). Dengan jurusan tekhink industri dan manajemen
“Saya berharap semoga nantinya anak saya bisa melanjutkan jualan yang saya rintis sendiri dan tetap bisa peduli dengan pelangan royal yang ada sampai saat ini,” tutupnya. (riz/all)










