Jajanan Jadul Yopia Kupu-Kupu, Manisnya Bikin Nostalgia

FOKUS: Pemilik Yopia Cap kupu-kupu generasi ketiga sedang fokus kemasi produk di rumahnya belum lama ini. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

DI sebuah gang sempit di Jalan Karangturi Gang 7, No. 14, Kecamatan Lasem, aroma khas gula merah yang manis dan hangat perlahan memenuhi udara pagi. Di sinilah Yopia Cap Kupu-Kupu. Jajanan tradisional yang telah berusia hampir dua abad terus diproduksi dengan cara turun-temurun.

Dikenal sebagai jajanan khas dari kawasan Tiongkok Kecil Heritage Lasem, Yopia cap kupu-kupu bukan sekadar makanan ringan. Ia adalah simbol warisan budaya dan ketahanan generasi. Sejak keberadaannya diangkat oleh lembaga pelestarian budaya benda dan non benda Lasem, popularitas yopia kembali mencuat di tengah masyarakat.

“Ini sudah generasi keempat, saya sendiri penerusnya sekarang. Kalau dihitung, sudah hampir 200 tahun mungkin,” ungkap Toni Haryanto, pemilik Yopia cap kupu-kupu belum lama ini.

Yopia terbuat dari bahan-bahan sederhana. Di antaranya gula merah, tepung terigu, air, dan minyak nabati. Tapi rasanya, menurut para pelanggan seperti nostalgia.

“Dari dulu sampai sekarang, resepnya tidak pernah kami ubah. Cuman ini saja, isi gula merah. Dulu sempat coba isi nanas dan kacang hijau, tapi tidak tahan lama. Yang penting saat ini jaga kualitas,” katanya.

Proses produksi dimulai sejak subuh. Toni memulai harinya pukul 04.30  WIB dan baru selesai menjelang pukul 13.00 WIB. Dalam sehari, ia bisa memproduksi hingga 400 potong yopia, dengan satu box berisi 10 buah dan dijual seharga Rp 35 ribu.

Seperti usaha kecil lainnya, pandemi Covid-19 pernah membuat Yopia vakum total hampir tiga bulan. Kendati demikian, banyak kawan dan pembeli yang ikut mempromosikan sehingga bisa jalan lagi.

Menariknya, promosi terbesar justru datang dari pelanggan. “Saya sendiri enggak punya TikTok. Tapi yang beli itu, banyak yang bikin video sendiri dan viral. Itu lebih bagus daripada kita promosi sendiri,” jelasnya.

Meski peminatnya tersebar di berbagai kota seperti Surabaya, Kudus, bahkan Purwokerto, pengiriman menjadi tantangan tersendiri. “Kadang yang minta dari luar kota juga ada. Tapi saya takut barangnya rusak di jalan. Ongkos kirimnya malah bisa lebih mahal dari harga yopianya sendiri,” ujarnya.

Sebagai produk lokal yang tidak pernah tergantikan oleh tren makanan kekinian, Yopia Cap Kupu-Kupu tetap setia pada akarnya. Kini, Toni berharap generasi muda lebih mengenal dan menghargai produk tradisional seperti yopia. (uma/iza)